AS Nilai Indonesia Sebagai Partner Strategis

AS Nilai Indonesia Sebagai Partner Strategis

- detikNews
Sabtu, 16 Des 2006 15:32 WIB
Washington, DC - Hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) mengalami pasang surut. Ada saatnya hubungan kedua negara berada pada titik rendah dan ada saatnya hubungan itu mesra. Melihat kecenderungan yang ada beberapa tahun belakangan, Duta Besar Indonesia untuk AS Sudjanan Parnohadiningrat menilai hubungan RI-AS sedang membaik.Pandangan Sudjanan itu dikemukakan saat menjadi panelis dalam diskusi yang diadakan Ikatan Keluarga Indonesia (IK) di kantor Kedutaan Besar RI di Washington, Jumat malam (15/12/2006). "Amerika menilai Indonesia sebagai partner strategis. Karena itu saya pikir Amerika Serikat tidak akan nguyo-nguyo (menyia-nyiakan) Indonesia lagi," ujar Sudjanan sebagaimana dilaporkan wartawan detikcom di Washington DC, Endang Isnaini Saptorini.Ia melihat ada beberapa faktor yang secara bersama-sama mengkondisikan perbaikan hubungan RI-AS. Dari segi geopolitik, AS menganggap Indonesia sebagai negara yang bisa mengimbangi kekuatan Cina di kawasan Asia Tenggara. Dalam konteks kebijakan AS melawan terorisme, Indonesia terbukti menjadi patner yang bisa diandalkan. "Embargo militer terhadap Indonesia dicabut karena Amerika melihat TNI bisa menjadi partner dalam perang melawan terorisme," tandas Sudjanan yang saat ini sedang menggarap disertasi untuk meraih gelar doktor dalam bidang hubungan internasional dari Australian University.Faktor energi juga menjadikan Indonesia sebagai patner ekonomi strategis AS. Negara adidaya ini mengkonsumsi BBM 18 juta barel per hari. Sementara, sumur-sumur minyak semakin sulit ditemukan di kawasan Timur Tengah. Dalam konteks seperti ini, kata Sudjanan, Indonesia menjadi alternatif pemasok energi bagi AS.Faktor lain yang tak kalah penting, kata Sudjanan, adalah karakter majemuk masyarakat Indonesia dan sistem politik yang demokratis. "Dengan karakter seperti itu Indonesia tidak akan jadi negara yang frontal melawan AS. Antara negara demokratis tidak akan perang," imbuh dia. Menyingung soal kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela terhadap hubungan RI-AS, mantan Dubes Indonesia untuk Australia ini melihat tidak akan berpengaruh besar. Beberapa anggota kongres dari Partai Demokrat mungkin akan menyoal masalah hak asasi manusia di Indonesia. Tapi, suara mereka akan ditenggelamkan oleh mereka yang melihat Indonesia sebagai patner strategis yang harus diperhitungkan.Selain Sudjanan, diskusi malam itu juga menampilkan Letkol. TNI AD Andika Perkasa sebagai pembicara. Menurut perwira Kopassus ini, AS mengaggap penting Indonesia bukan karena demokrasinya, tapi karena Indonesia adalah negara muslim terbesar yang moderat. "Amerika menginginkan Indonesia untuk tetap menjadi negara muslim moderat," ujar Andika yang sedang mengambil gelar doktor di George Washington University. (eis/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads