Krisis Gas Mulai Teratasi
Sabtu, 16 Des 2006 00:02 WIB
Medan - Krisis gas di Medan, yang berpengaruh terhadap produksi 15 perusahaan di Kawasan Industri Medan (KIM) segera diatasi dengan menambah pasokan sebesar lima juta kaki kubik per hari. Dengan demikian, total pasokan gas ke KIM bertambah, dari 45 juta kaki kubik per hari menjadi 50 juta kaki kubik per hari. "Penambahan pasokan gas ini merupakan solusi jangka pendek empat bulan ke depan. Diharapkan, hal ini bisa menjawab krisis gas yang terjadi di KIM," kata Kepala Dinas Energi dan Pertambangan Sumatera Utara (Sumut) Washington Tambunan di Medan, Jumat (15/12/2006). Menurut Washington, keputusan menambah pasokan gas lima juta kaki kubik per hari ke KIM ini, sudah dibicarakan antara Pemerintah Provinsi Sumut, Pertamina, dan PN Gas Sumut. Prinsipnya, ke tiga institusi tersebut mendukung langkah ini. Sebab, tanpa menambah pasokan gas ke KIM, 15 perusahan di sana dikhawatirkan akan gulung tikar alias bangkrut. "Kita tak ingin, perusahan yang ada di KIM itu tutup. Karena hal itu akan memberikan citra buruk dalam iklim investasi di Sumut," katanya. Sebelumnya, sedikitnya 15 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) di KIM mengalami krisis gas. Perwakilan 15 PMA tersebut akhirnya menggelar unjukrasa menuntut Pemprov Sumut mengatasi krisis, karena hal tersebut memberikan dampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada sedikitnya 5.000 karyawan. Humas PT KIM, Jefri Sirait menyatakan, soal ancaman PHK kepada 5.000 karyawan akibat krisis gas tersebut memang nyata. Pasalnya, tekanan gas di 15 PMA itu antara 03 sampai 05 mmBTU (milion meter British Thermal Unit/juta kaki kubik). Padahal setahun lalu, kata Jefri, tekanan gas dari PT Perusahan Gas Negara (PGN) Sumut jauh di atas angka ini. "Artinya, tekanan gas yang anjlok dalam pipa yang diterima pabrik, menyebabkan turunnya kapasitas produksi, batalnya sejumlah kontrak dengan pembeli, dan mengakibatkan pengiriman barang tidak sesuai jadwal, hingga kepada effisiensi di perusahaan berupa PHK," imbuh Jefri. Jefri yakin, krisis gas ini pasti menimbulkan dampak lebih besar bagi Sumut, apabila tidak segera diatasi. Salah satunya, menurunkan penerimaan devisa, serta rusaknya citra Sumut sebagai daerah kondusif untuk investasi. Tapi, setelah ditambahnya pasokan gas ke KIM, Washington berharap kendala yang ada bisa diatasi. "Paling tidak, penambahan pasokan gas lima juta kaki kubik per hari ke KIM itu, sebagai jawaban atas tuntutan beberapa perwakilan perusahan di KIM dalam aksi beberapa waktu lalu," lanjutnya.
(rul/wiq)











































