Pornografi dan Budaya Kekerasan Anak Kesalahan Ortu
Jumat, 15 Des 2006 18:27 WIB
Jakarta - Banyak faktor yang bisa memicu anak terpapar pornografi dan budaya kekerasan. Antara lain, banyaknya orangtua yang tidak bisa membedakan tontonan dan ancaman di televisi.Hal itu disampaikan Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati Elly Risman dalam diskusi bertajuk Smackdown dan Kekerasan Terhadap Anak di Kantor Menneg PP, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (15/12/2006)."Banyak orangtua yang suka tayangan tertentu, misalnya gosip atau acara yang sebenarnya tidak pantas untuk anak-anak. Karena orangtuanya nonton, anaknya jadi ikut nonton," kata Elly."Televisi bisa membentuk mekanisme tubuh, akibatnya tubuh bisa kecanduan televisi. Jadi kalau mau nonton TV sudah otomatis lagi, bukan lagi perintah otak tapi sumsum tulang belakang," imbuhnya.Ditambahkan, pembinaan sebagai ortu di Indonesia masih sangat kurang, sehingga kerap kali orangtua menganggap anak sebagai orang dewasa yang bertubuh kecil. "Jadi sense of being mother harus dipupuk. Itu bisa dengan tayangan parenting di TV," katanya.Dicontohkan dia, di Malaysia, tayangan parenting ditayangkan pukul 06.00-08.00 pagi. Dengan cara seperti itu, maka orangtua banyak yang mendapat masukan bagaimana menjadi orangtua yang baik. "Di kita jam segitu malah acara gosip," cetusnya.Apalagi persentase tayangan pendidikan untuk anak-anak dari semua stasiun TV di Indonesia hanya sekitar 1-2 persen. Sedangkan di luar negeri bisa mencapai 20-30 persen."Selain itu pornografi dan kekerasan bisa didapat dari game, komik, kartu, poster dan internet. Jadi jangan asal membelikan sesuatu untuk anak, tapi lihat juga dampaknya," tandas Elly.
(umi/nrl)










































