Debat Publik Poligami Ricuh, Diwarnai Aksi Pro Kontra
Jumat, 15 Des 2006 17:12 WIB
Jakarta - Debat publik poligami yang digelar di Masjid Al A'raf, Kwitang, Jakarta Pusat, benar-benar bikin heboh. Perdebatan sengit terjadi antarpembicara dan antara pembicara dengan peserta.Isu poligami yang diangkat, yakni "Perlukah Peraturan Pemerintah Mengatur Poligami", menuai beragam reaksi, pro dan kontra. Kericuhan dimulai pada saat sesi tanya jawab usai pembicara memaparkan pendapat-pendapat mereka tentang poligami.Bagi yang kontra, poligami diyakini sebagai akumulasi tiga faktor, yaitu lumpuhnya sistem hukum di Indonesia, khususnya UU Perkawinan. Kedua, kentalnya budaya patriaki dan ketiga, kuatnya interpretasi seks agama yang bias gender dan tidak akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan."Di Indonesia masyarakat masih memandang istri sebagai objek seksual, harus ikut apa mau suami dan tidak boleh menolak," kata Siti Musdah Mulia, aktivis perempuan Islam dan HAM yang juga penulis buku "Islam Menggugat Poligami".Musdah menjadi pembicara debat publik di masjid yang terletak di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat (15/12/2006).Ketika laki-laki ingin menikah lagi, imbuh Musdah, pasti mereka menikah lagi dengan perempuan yang lebih baik dari istri pertama. "Lalu mana hakikat poligami yang dianjurkan Al Quran yaitu untuk memberi perlindungan untuk anak yatim? Yang ada justru ibunya diambil, anaknya dibuang," cetus dia. Lain halnya dengan penganut poligami Fauzan Al Anshari, aktivis MMI. Pria beristri 4 ini berpendapat poligami jangan dipersulit dan diperdebatkan, karena berpoligami atau tidak adalah urusan laki-laki tersebut dengan Tuhan-nya, jadi tidak perlu diributkan."Poligami itu syariah, menolak apa yang dihalalkan Allah sama saja dengan murtad. Dan orang yang menghalang-halangi orang lain untuk menjalani syariah berarti kafir. Kalau pun saya tidak bisa berbuat adil terhadap istri-istri saya, biar saja itu menjadi urusan saya dengan Tuhan saya," beber dia tidak kalah sengit.Perempuan BermasalahDebat semakin panas ketika keluar pernyataan dari Musdah bahwa perempuan yang bersedia di poligami adalah perempuan yang bermasalah.Berdasarkan riset yang dilakukannya, 98 persen poligami di Indonesia diawali dari perselingkuhan.Sontak semua yang pro poligami protes, sehingga terjadi adu mulut antara para peserta dalam membela pendapatnya masing-masing. Suasana pun makin ricuh.Untunglah situasi berhasil didinginkan ketika salah satu pembicara, KH Ahmadi S Zazuli, menengahi bahwa poligami adalah pilihan masing-masing individu yang beragama Islam."Apapun pilihan kita terhadap poligami tidak sepantasnya diperdebatkan. Semua tergantung niat kita kepada Allah, yang penting kita harus bertanggung jawab atas pilihan kita tersebut," katanya.Meski sempat terlibat debat sengit, semua pembicara dan peserta seminar yang disponsori penyelenggara Poligami Award, Puspo Wardoyo, sepakat, belum perlu adanya aturan pemerintah yang mengatur poligami. Poligami masih menjadi urusan pribadi setiap orang.
(umi/nrl)











































