Pengelola Motor Cross: Masalah dengan Warga Selesai
Kamis, 14 Des 2006 13:44 WIB
Tangerang - Warga Pondok Cabe Udik, Tangerang, protes terhadap kegiatan motor cross di area Villa Bukit Raya. Mereka merasa dirugikan, karena polusi udara dan kebisingan suara knalpot motor. Tapi, PT Mahakam Nusa Energi (MNE), selaku pengelola motor cross, menyatakan masalah dengan warga sudah selesai. "Sudah terjadi pembicaraan secara musyawarah dengan RW, dan kami juga sudah mengerti keresahan mereka. Hanya masalahnya kami kurang melakukan pendekatan," kata Mochamad Ridwan dari MNE saat berbincang-bincang dengan detikcom. Hal senada juga disampaikan Rudy Sugiharto, mantan Koordinator Lapangan MNE yang seringkali menjadi jembatan komunikasi dengan warga sekitar. "Pembicaraan sudah terjadi dan masalah ini sudah selesai. Pada dasarnya warga mengharapkan kepedulian MNE terhadap pemberdayaan penduduk dan kontribusi terhadap perekonomian," kata dia. Protes warga terhadap kegiatan motor cross ini sudah di ubun-ubun. Mereka sudah melayangkan surat resmi kepada PT MNE, develepor Villa Bukit Raya, kelurahan, kecamatan, dan Polsek setempat pada November 2006 lalu. Namun, hingga sekarang, tuntutan mereka belum terkabulkan juga. Kegiatan motor cross tetap jalan, sehingga debu-debu dari sirkuit mengotori rumah, pakaian, dan tanaman-tanaman mereka. Mereka juga terganggu dengan bisingnya suara knalpot sepeda motor. Warga pun hingga kini masih mempersoalkan kasus ini. Artinya, masalah warga dengan pengelola motor cross belum tuntas. Wahab Sumi, Ketua RW 02 Pondok Cabe Udik, dan perwakilan pemuda pelopor gelombang protes, Imam Syafi'i yang ditemui detikcom hari Rabu (13/12/2006) lalu, mengaku belum ada kata sepakat antara warga dengan MNE. Menurut keduanya, warga RT 02, RT 03, dan RT 04 yang paling terganggu atas kegiatan motor cross ini. Sebab, sirkuit 4 hektar yang dibangun di areal Villa Bukit Raya itu berbatasan dengan wilayah tersebut. "Kalau benar sudah ada penyelesaian, sebutkan kapan?" ujar Imam mempertanyakan. Menurut pihak warga, pihak MNE justru nampak acuh tak acuh terhadap protes warga ini. Mengenai soal pemberdayaan warga, Imam mengakui bahwa warga sempat dibuai dengan program motor cross yang berimbas positif terhadap penghasilan warga. Tapi, sampai sekarang hal itu tidak terbukti. Terlepas dari masalah kedua belah pihak, Edi Suhartono selaku perwakilan pengembang Villa Bukit Raya mengaku tidak tahu menahu tentang masalah ini. Pihaknya juga belum mendapat surat protes dari warga itu. "Surat apa? Kita tidak pernah lihat bentuknya," ujar dia ringan. Ia pun menambahkan bahwa pihak pengembang berada di luar lingkaran masalah ini dan tidak ingin ikut campur. "Silakan diselesaikan saja. Kalau bisa damai, kami bersyukur. Kalau (motor cross) harus tutup juga terserah saja," kata lelaki ini dengan santai.
(asy/nrl)











































