Musim Haji Tiba, Riyal pun Datang
Kamis, 14 Des 2006 07:40 WIB
Makkah - Bagi jamaah, bisa jadi berhaji merupakan saat-saat yang paling berkesan. Tapi bagi sejumlah mukimin (WNI yang tinggal di Arab Saudi), musim haji adalah musim meraup rezeki.Setiap musim haji datang para mukimin bisa meraup ratusan hingga ribuan Riyal. Banyak cara yang mereka bisa lakukan, mejadi tenaga musiman di kantor Panitian Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH), berjualan aneka barang, menjaga pemandu jamaah BPIH khusus, hingga menjadi pendorong jamaah haji yang sudah lanjut usia.Fahrozi (22) salah satunya. Sudah 3 tahun pemuda asal Medan, Sumatera Utara, ini tinggal di Makkah. Kegiatannya sehari-hari adalah bersekolah di sebuah madrasah tsanawiyah. Dia mendapat uang saku dari sekolah itu sebesar 400 Riyal setahun.Pada setiap musim haji, Fahrozi selalu mencari tambahan dengan menjadi pendorong jamaah haji BPIH khusus yang telah lanjut usia untuk melakukan tawaf dan sa'i. Untuk satu jamaah, dia mematok harga sekitar 500 Riyal. Dalam satu musim haji paling tidak ada 2 jamaah yang menggunakan jasanya.Sebagai modal awal, dia membeli sebuah kursi dorong seharga sekitar 100 Riyal. Masjidil Haram memang menyediakan peralatan kursi roda. Tapi untuk meminjamnya, prosedurnya berbelit-belit."Kita harus menyerahkan Igoma (KTP) kepada petugas masjid. Masalahnya mereka suka sembarangan menyimpannya sembarangan, kalau sampai hilang bisa susah kita. Kita sama saja jadi penduduk gelap," kata Fahrozi saat berbincang-bincang dengan detikcom di Makkah, Kamis (14/12/2006).Sebagai pendorong jamaah haji, tugas Fahrozi tidak enteng. Sebab untuk melakukan tawaf dengan menggunakan kursi roda harus dilakukan di lantai 2 atau 3 Masjidil Haram. Ini artinya, jarak yang harus ditempuhnya menjadi sekian kali lebih jauh dari bila melakukan tawaf di lantai dasar.Untuk mendapatkan pengguna jasanya juga bukan perkara mudah. Sebab, mukimin yang juga berprofesi seperti Fahrozi tidak sedikit. Karena itu pemuda ini menggunakan trik khusus. Caranya adalah menjalin hubungan baik dengan sejumlah petugas travel penyelenggara haji khusus. Kalau hubungan baik sudah tercipta, biasanya pihak travel itu sendiri yang akan menghubungi jika jada jamaah yang membutuhkan tenaga pendorong.Tarif yang dikenakan Fahrozi memang lebih mahal ketimbang pendorong dari warga lokal. Warga lokal bisanya hanya memasang tarif sekitar 250 atau 300 Riyal. Untuk hal ini, pemuda bertubuh jangkung ini punya alasan tersendiri."Kalau saya kan tidak hanya mendorong, tapi juga sekaligus memberikan bimbingan kepada jamaah haji. Kalau warga lokal kan, bisanya hanya mendorong saja. Jamaahnya tanya ini itu tidak dijawab, karena memang tidak mengerti bahasanya," tuturnya.
(djo/nvt)











































