Rakyat AS Nilai Negaranya Kalah Perang di Irak
Kamis, 14 Des 2006 06:51 WIB
Washington DC - Perang di Irak kian tidak populer di mata warga AS. Jajak pendapat terakhir yang diadakan harian terkemuka the Washington Post dan televisi ABC menunjukkan 52 persen rakyat AS menilai negara mereka kalah dalam perang di Irak.Jajak pendapat yang dimuat di the Washington Post edisi Rabu[13/12] ini menguatkan pendapat Menteri Pertahanan yang baru Robert Gates saat dengar pendapat dengan anggota Senat beberapa waktu lalu. Kala itu Gates mengakui Amerika tidak memenangi perang di Irak.Sebagaimana dilaporkan koresponden detikcom di Washington DC, Endang Isnaini Saprotini, jajak pendapat yang diadakan tanggal 7-11 Desember itu juga menanyakan apakah di Irak telah terjadi perang saudara.Hasilnya, 41 persen mengatakan di Irak terjadi perang sipil, naik dari angka 34 persen saat jajak pendapat yang sama diadakan bulan Agustus. Sementara sebanyak 45 persen mengatakan situasi di Irak mendekati perang saudara.Istilah "perang saudara" ini sempat menjadi sumber kontroversi beberapa waktu lalu. Istilah perang saudara sejatinya sudah digunakan oleh sejumlah surat kabar di AS. Namun saat stasiun televisi NBC lewat penyiar acara Today Show, Mat Lauer mengumumkan penggunaan istilah perang saudara, polemik pun meledak. Keputusan NBC ini mengundang kecaman kalangan konservatif yang mengatakan stasiun televisi ini tidak obyektif lagi dalam memberitakan situasi di Irak.Jajak pendapat ini diadakan menyusul publikasi laporan Kelompok Kajian Irak hari Rabu minggu lalu. Menurut jajak pendapat lewat telepun dengan jumlah responden berjumlah 1005 ini, 46 persen mendukung hasil kerja Kelompok Kajian Irak dan sebanyak 22 persen menentang.Namun, ketika ditanya soal sejumlah rekomendasi yang dihasilkan Kelompok Kajian yang dipimpin bekas Menteri Luar Negeri James Baker dan mantan anggota Kongres partai Demokrat Lee Hamilton, dukungan responden meningkat. Misalnya, 79 persen menyetujui perubahan status pasukan AS di Irak dari pasukan tempur ke pasukan pendukung.Kemudian rekomendasi untuk menarik sebagian besar pasukan tempur di awal 2008 didukung oleh 69 persen. Menariknya juga, 6 dari 10 responden setuju dengan rekomendasi bahwa Amerika harus membuka dialog dengan Iran dan Syria untuk menyelesaikan krisis Irak.Sebagian besar rakyat masih ragu-ragu apakah penarikan pasukan secepat mungkin dari Irak akan menyelesaikan konflik di Irak. Namun begitu, jajak pendapat ini juga mengungapkan bahwa mereka sangsi pemerintahan Presiden Bush memiliki solusi yang jelas untuk mengatasi kemelut di Irak.Bahkan di kalangan pendukung partai Republik hanya 49 yang percaya Presiden Bushmemiliki strategi yang jelas. Namun Bush masih bisa menghibur diri karena sebagian besar warga AS tidak yakin Partai Demokrat pun punya strategi yang jitu untuk menangani krisis Irak.Beberapa hari terakhir, Bush melakukan pertemuan maraton dengan berbagai pihak untuk merumuskan strategi baru. Hari Senin ia bertemu dengan pejabat Departemen Luar Negeri AS.Pada Rabu 13 Desember kemarin, Bush bersama Wakil Presiden Dick Cheney bertandang ke Pentagon untuk berkonsultasi dengan pejabat teras Departemen Pertahanan. Setelah itu dia melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Presiden Irak Jalal Talabani dan presiden wilayah Kurdi Massoud Barzani.Meski begitu Bush nampaknya tidak mau buru-buru melakukan perubahan besar di Irak."Saya mendengar sejumlah gagasan yang akan menggiring ke arah kekalahan. Saya menolak gagasan untuk meninggalkan Irak sebelum pekerjaan selesai. Gagasan seperti ini tidak akan membantu pemerintah Irak mengambil langkah yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya," ujar Bush sebagaimana dikutip harian the Washington Post [13/12]Diperkirakan presiden Bush akan mengumumkan strategi baru AS di Irak awal tahun 2007. Rakyat AS sudah tidak sabar lagi menunggu arah baru kebijakan AS di Irak. Sementara, pertumpahan darah di Irak terus berlangsung.
(eis/nvt)











































