Pilkada Aceh
Berlebihan Khawatirkan Irwandi
Selasa, 12 Des 2006 16:08 WIB
Jakarta - Wacana bahwa keunggulan sementara perolehan suara Irwandi Jusuf-M. Nazar dalam Pilkada NAD merupakan bukti rakyat Aceh belum mempercayai Pemerintah RI, dinilai terlalu berlebihan.Sama berlebihannya dengan kekhawatiran pasangan mantan anggota GAM dan aktivis SIRA tersebut akan kembali mendesakkan pemisahan Aceh dari NKRI saat resmi menjadi pasangan kepala daerah NAD."Saya pikir, adanya kekhawatiran itu berlebihan. Yang penting proses Pilkada berjalan benar dan transparan, dan diikuti semua masyarakat Aceh. Siapa pun pemenangnya, tidak ada kekhawatiran sama sekali," kata Heru Lelono -- staf khusus Presiden bidang otonomi daerah -- di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (12/12/2006).Ditegaskannya, pelaksanaan pilkada NAD melalui mekanisme demokrasi merupakan bagian dari proses perdamaian dan rekonsiliasi Aceh yang telah dinyatakan di dalam Kesepakatan Helsinski. Seperti halnya penyerahan senjata organik GAM, penarikan pasukan TNI dan pengesahan UU PA."Jadi ini bukan persoalan rakyat percaya atau tidak pada pemerintah. Katakanlah nanti Irwandi-Nazar yang menang, dia bekerja dan kemudian menjadi seorang pemerintah. Di dalam sistem ketatanegaraan UUD 1945 mereka sebagai mandataris, bukan diri sendiri," urai Heru panjang lebar.Dengan dasar pemikiran di atas, pemerintah tidak akan melakukan tindak memalukan, seperti mengintervensi perhitungan suara untuk menjegal laju perolehan suara Irawandi-Nazar. Presiden malah mengintruksikan agar prosesitu dikawal agar tetap berjalan transparan."Presiden hanya pesan satu, ini perhitungan masih berjalan dan belum selesai, untuk itu semua diminta untuk mengawalnya," ujar Heru.
(lh/nrl)











































