Kaheik Dipeungeut

Pilkada Aceh

Kaheik Dipeungeut

- detikNews
Selasa, 12 Des 2006 01:36 WIB
Banda Aceh - Sejumlah pemilih tak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Akibatnya, mereka tak bisa memilih. Sementara, pemilih yang terdaftar banyak yang tak mau mencoblos. "Kaheik dipeungeut," kata salah seorang pemilih. Ungkapan dalam bahasa Aceh itu berarti, sudah lelah dibohongi.Farida (27) duduk di sebuah warung yang tak jauh dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) 2 Desa Alue Naga, Kecamatan Syiahkuala, Banda Aceh. Dengan tekun, Farida memperhatikan para pemilih yang keluar masuk TPS itu. Farida sendiri mengaku tak mau memilih dalam Pilkada yang digelar untuk pertama kalinya di Aceh."Saya tak mau milih mereka. Sudah capek kita dibohongi terus. Nanti, kalau mereka menang, apa mereka ingat kita," katanya pada detikcom, Senin (11/12/2006). "Mereka tambah kaya, kita begini-begini juga. Rumah bantuan saja tak dapat padahal sudah hampir dua tahun setelah tsunami," imbuhnya lagi.Farida yang kini tinggal bersama dua saudaranya adalah orang-orang yana tersisa pascatsunami menyapu desa yang berada di bibir pantai itu. Kedua orang tua mereka menjadi korban dalam kejadian tersebut. Tak hanya itu, rumah beserta sepetak tanah milik mereka kini sudah tak berbekas, hilang dan menjadi lautan.Diakuinya, beberapa hari lalu mereka sudah mendapat surat undangan untuk memilih hari ini. Tapi dia dan saudaranya memutuskan untuk tidak memilih. "Buat apa kita ikut memilih. Yang ada bertambah dosa saja kita ini. Coba lihat calon-calon itu, setelah tsunami mereka tambah kaya. Sementara nasib kami disini tak diperhatikan," tuturnya.Farida adalah orang-orang yang kecewa karena merasa terabaikan dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami. Karena sampai kini mereka masih tinggal di barak. Padahal dikatakannya, banyak yang orang-orang yang menerima bantuan rumah, bukan orang-orang yang layak mendapat bantuan. "Di sini saja, yang dulunya bukan warga Alue Naga bisa dapat rumah, hanya karena saudara dari warga yang jadi pengurus rumah bantuan," ungkapnya kesal.Di desa ini, Farida termasuk dari seratus pemilih lainnya yang tak menggunakan hak pilihnya. Disebutkan Kepala Panitia Pemungutan Gampong (PPG) Zulkifli, mereka kesulitan menemukan para warga yang mengungsi. "Kita tidak mengetahui keberadaan mereka lagi, ada beberapa yang di barak, tapi mereka kesulitan datang karena persoalan ekonomi. Barak mereka jauh dari sini," tutur Zulkifli pada detikcom.Sebelum tsunami, desa ini memiliki sekitar 5.000 jiwa penduduk. Dan kini hanya tersisa 1.300 jiwa. Dari jumlah itu, pemilih berjumlah 619.Meski banyak yang senada dengan Farida, tak sedikit pula pemilih yang berharap agar Aceh bisa lebih baik di tangan para pemimpin yang dipilih rakyat setelah Pilkada ini.Seperti harapan seorang pemilih, Darmiati (42), seorang pengungsi di barak pengungsian Desa Lambaro Skep, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. "Bagi siapa yang menang nanti, jangan lupa nasib kami yang masih tinggal di barak ini. Kami bantu mereka sekarang dengan memilih mereka, nanti kalau terpilih, ya Bantu kamilah," pintanya. (ray/bal)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads