Benteng Ambrol, Yayasan Daarut Tauhiid Siap Tanggung Jawab
Minggu, 10 Des 2006 13:34 WIB
Bandung -
Pihak Yayasan Echo-Pesantren Daarut Tauhiid menyatakan siap bertanggung jawab atas peristiwa ambrolnya benteng penahan tebing di kawasan Cigugur Girang, Kecamatan Parompong, Bandung, Jawa Barat.Pernyataan itu dilontarkan Ketua Yayasan Budi Faisal saat bertemu dengan pihak warga Desa Cigugur Girang, Kampung Sukamulus RT 01/012, Kecamatan Parompong yang diwakili pengurus RW 012, Andang Rusmita."Kami merasa bersalah dan akan bertanggung jawab atas semua kerusakan yang ditimbulkan. Dan kami akan menanggung seluruh biaya yang harus dikeluarkan korban," kata Budi dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 1 jam sejak pukul 10.30 di lokasi kejadian, Minggu (10/12/2006).Kesepakatan ini ditandatangani kedua belah pihak di atas materai Rp 6.000. Dalam pertemuan itu juga disepakati akan dibantuk tim khusus dari kedua belah pihak untuk menginventarisir segala kerugian yang diderita warga. Perhitungan sementara, akibat kejadian yang berlangsung pada Sabtu 9 Desember pukul 18.30 WIB itu, 1 Warga mengalami luka dan harus dirawat di RS Advent, Bandung. Selain itu kejadian ini juga menghancurkan 4 rumah, 3 kebun warga, 1 kolam pemancingan, dan proyek pengaspalan jalan yang sedang dilakukan warga. Selain itu, tim khusus itu akan menyusun prioritas untuk memperbaiki kerusakan yang ada. Benteng yang mengitari tebing pun akan segera direnovasi dengan struktur yang aman. Budi Faisal pun mengakui musibah ini kesalahan dan keteledoran pihaknya. "Dugaan sementara karena debit air yang luar biasa banyak dan kondisi benteng yang tidak kuat. Sehingga benteng penahan tebing itu ambrol," jelasnya.Untuk sementara, lanjut Budi, untuk mengurangi debit air pihaknya akan membuat tangkapan air dan kolam-kolam di kawasan pesantren. "Ini untuk mengurangi luapan air yang ada," ujarnya.Budi menjelaskan, lahan seluas 8,9 hektar itu rencananya akan dibangun sebuah pesantren berbasis pertanian. Pesantren ini juga memiliki fasilitas berupa hunian bagi jamaah berupa home stay.Budi menjelaskan, pihaknya memang belum membangun lahan pesantren itu lantaran masih menunggu tanaman keras tumbuh di tebing setinggi 6 meter. "Setelah tumbuh, kami baru berani membangun bangunan," ujarnya.
(ary/ary)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































