Mahasiswa Yogya Anti Poligami Demo, Gelar Lakon Aa Gym
Jumat, 08 Des 2006 15:13 WIB
Yogyakarta - Heboh poligami rupanya juga bisa memicu aksi demo. Di Yogyakarta, sejumlah mahasiswa turun jalan menolak poligami.Mereka menolak poligami karena lebih banyak mudharat daripada manfaatnya karena sering menjadi penyebab timbulnya kekerasan dalam rumah tangga dan konflik antarkeluarga serta penelantaran anak-anak.Aksi keprihatinan yang digelar di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta di Jl Senopati, Jumat (8/12/2006) dilakukan oleh anggota Senat Mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).Selain berorasi, mahasiswa juga menggelar happening art dan pembacaan puisi yang berisikan kritikan tajam terhadap orang-orang yang melakukan poligami. Mereka mementaskan lakon dai kondang yang melakukan poligami, KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Salah seorang mahasiswa dengan mengenakan sorban dan baju muslim beperan sebagai Aa Gym. Dua orang mahasiswi berperan sebagai Teh Ninih dan Alfarini Eridani atau Rini. Aksi itu menyentil tindakan Aa Gym yang saat ini menjadi panutan masyarakat, namun karena tokoh itu melakukan poligami dikhawatirkan masyarakat awam akan mengikutinya.Salah seorang peserta aksi, Novrianti, dalam orasinya mengatakan apakah seorang laki-laki itu merasa kurang bila beristri satu orang saja sehingga harus melakukan poligami. Sementara itu perjuangan dan kegigihan seorang perempuan itu harus diacungi jempol, misalnya berjuang saat hendak melahirkan. Selain itu rela menanggung beban derita ketika harus mengasuh dan membesarkan anak-anaknya.Novri mengecam keras orang yang melakukan poligami dengan mengatasnamakan hukum Islam sebagai pembelaan. Sebab Islam itu agama yang menjunjung keadilan sehingga tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki selain takwanya. Oleh karena itu pihaknya juga menyesalkan sikap dari tokoh-tokoh agama yang tidak jelas dan tidak konsisten menyikapi poligami.Dia mengatakan, poligami tidak hanya menyakiti hati seorang ibu saja tapi juga berpengaruh terhadap mental psikologis anak-anak. Selain itu unsur kecewa dan merasa diduakan pasti ada pada setiap wanita yang dimadu. "Ukuran keadilan tidak dapat diukur dari seorang laki-laki saja yang melakukan poligami tapi juga harus diukur dari seorang ibu yang jadi korban poligami karena dialah yang menjalani harus berbagai cinta dengan wanita lain. Kami yakin tidak akan ada wanita yang mau diduakan," katanya.Usai berorasi, mereka kemudian menuju loket Kantor Pos Besar Yogyakarta yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat aksi. Di tempat itu mereka mengirimkan surat terbuka kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta untuk mengirimkan surat dukungan dan menyambut gembira atas rencana pemerintah melakukan revisi UU Perkawinan, khususnya mengenai poligami, dengan memperketat aturan dan syarat-syarat poligami.
(bgs/nrl)











































