Buat Apa Belajar, Mendingan Remi

Sidang Gugatan UN

Buat Apa Belajar, Mendingan Remi

- detikNews
Kamis, 07 Des 2006 21:48 WIB
Jakarta - "Buat apa belajar, nanti juga diberi tahu jawabannya. Mendingan mainan remi." Celetukan seorang siswa SMK peserta Ujian Nasional (UN) 2006 ini mengejutkan Mamil Muhdiyatul Millah.Mamil adalah guru SMK Pelita, Bogor Barat. Saat UN 2006 berlangsung, dia mendapat tugas mengawasi ujian sekolah tetangga, yakni SMK Pandu."Siswa sampai tidak belajar, karena pada saat UN, siswa diperlihatkan jawabannya," ujar perempuan berkerudung ini dalam sidang gugatan UN di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Gadjah Mada, Jakarta, Kamis (7/12/2006).Dijelaskan dia, jawaban itu semula dititipkan kepada pengawas. Namun pada ujian hari berikutnya, jawaban disampaikan oleh panitia penyelenggara UN dari sekolah yang bersangkutan."Itu mungkin karena mereka tidak percaya pada saya, karena saya enggan memperlihatkan jawaban," imbuh Mamil dihadapan majelis hakim yang dipimpin Andriani Nurdin.Pemberitahuan jawaban soal kepada siswa ini merupakan konsensus kepala sekolah SMK swasta di Bogor Barat, setelah ada imbauan dari Dinas Pendidikan Nasional setempat yang mengatakan agar siswa yang lulus UN mencapai 100%. Cara atau siasat untuk meraih kesusksesan itu pun diberikan pada masing-masing kepala sekolah.Ditambahkan Mamil, beberapa hari setelah UN 2006 usai, Kepala Sekolah SMK Pandu mendatangi Kepala Sekolah SMK Pelita, dan menyatakan kekesalannya pada Mamil yang enggan memperlihatkan jawaban pada siswa."Bahkan ada guru yang bilang, waktu UN kemarin seharusnya saya jadi seksi konsumsi saja. Menurut saya tindakan ini pelecehan profesi," katanya sedikit gusar.Tak lama, diberlakukan kebijakan baru di SMK Pelita, yakni agar semua guru membuat surat lamaran ulang dan harus menyetujui 16 pernyataan yang diajukan pihak sekolah dan yayasan."Karena saya minta ada tambahan kata 'harus sesuai dengan syariat', maka secara otomatis saya harus mengundurkan diri dari sekolah itu," lanjutnya.Selain Mamil, dihadirkan pula Tukri yang merupakan orang tua Alex Arida, siswa yang berprestasi dalam olimpiade fisika namun gagal UN."Matematika Alex jeblok. Dia dapat 3,00. Padahal selama dia sekolah nilainya selalu bagus dan masuk 10 besar terus. Sepertinya itu semua jadi sia-sia," kata Tukri lirih.Ditambahkan dia, Alex harus melepas kesempatan meneruskan pendidikan di Universitas Negeri Semarang (UNES). "Padahal dia sudah diterima di sana karena prestasinya," lanjut pria paruh baya itu.Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi akan kembali digelar pada Kamis 11 Januari 2007. Rentang waktunya cukup lama, karena ketua majelis hakim akan menunaikan ibadah haji. (wiq/wiq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads