Korban Salah Tangkap Digebuki Polisi Pakai Mesin Air

Korban Salah Tangkap Digebuki Polisi Pakai Mesin Air

- detikNews
Kamis, 07 Des 2006 17:34 WIB
Pekanbaru - Ari Saputra, korban salah tangkap tim Buser Poltabes Pekanbaru, mengaku digebuki pakai mesin air bekas dibalut dengan karung goni. Akibatnya tubuh Ari babak belur, kedua telinganya mengucur darah segar. Kejam..!Nasib malang menimpa Ari Saputra, sopir angkot di Pekanbaru. Tim Buser menangkapnya dengan tudingan sebagai maling di Plaza Sukaramai, Jl Sudirman, Pekanbaru, Selasa lalu. Belakangan polisi melepasnya, dengan alasan salah tangkap. Ternyata Ari yang terlanjur digebuki polisi itu bukan target pihak Buser. Ari yang kini terbaring di RS Bayangkara Polda Riau masih ingat betul perilaku biadab oknum-oknum Buser Poltabes. Dia tidak hanya mendapat pukulan tangan dan kaki. Anggota buser juga menghantam kepala dan dadanya dengan mesin air bekas dibalut dengan karung goni beras. Cerita Ari kepada detikcom, Kamis (7/12/2006), setelah dibalut, mesin itu dipukulkan ke punggungnya. Ari pun tersungkur dan memohon ampun kepada tim Buser agar tidak digebuki lagi. Tapi malam itu, lanjut Ari, Tim Buser beranggotakan 5 orang terus memaksanya untuk mengaku sebagai maling celana. Ari tetap bersikeras bahwa dia bukan malingnya. Rupanya, polisi jengkel melihat Ari yang tak mau mengaku juga. Lantas, polisi mengambil pompa air bekas tadi untuk menghajarnya. "Ayo kau ngaku saja malingnya, kalau tidak mesin ini akan menghajar kepalamu," kata tim Buser seperti yang dituturkan Ari. Walau diancam, Ari tetap tak mau mengakui dirinya sebagai maling. Maka, prak! Mesin pompa air bekas itu dilayangkan oknum buser ke kepala Ari. Hempasan mesin yang begitu kuat membuat Ari kembali tersungkur ke lantai dan seketika itu juga kedua telinganya mengucurkan darah segar. Setelah dihajar dengan mesin pompa air, eh ... siswa polisi yang masih magang ikut meniru adegan seniornya. Siswa polisi tak mau ketinggalan untuk menyiksa Ari. Dengan tali pinggang, tali untuk menimba air, dipukulkan ke sekujur tubuhnya. "Lihatlah Bang, badan saya ini," kata Ari menunjukkan sejumlah bekas pukulan tersebut. Selama dalam cengkeraman polisi, Ari mengaku dilarang untuk menangis. Bila menangis, maka siksaan akan terus diterimanya. "Saya dilarang menangis malam itu, kalau menangis, malah mereka terus memukuli," kata Ari. Sedangkan orangtua Ari, Rakonen, kepada detikcom mengaku, ketika anaknya dipulangkan pihak kepolisian, sesampai di rumahnya, Ari pingsan. Hampir satu jam Ari tak sadarkan diri. "Karena itulah saya membawanya ke rumah sakit ini," kata Rakonen. (cha/asy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait