KDRT Pemicu Stigma Buruk Poligami
Rabu, 06 Des 2006 05:09 WIB
Jakarta - Pro dan kontra tentang poligami berkembang di masyarakat. Stigma buruk tentang praktek tersebut pun muncul. Hal itu dikarenakan adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagai buntut dilakukannya poligami."Poligami telah meningkatkan KDRT. Suami biasanya mulai ringan tangan mana kala praktek ini dilakukan, meski ini case per case," ujar dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Dr Musdah Mulia, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (5/12/2006).Menurut Ahli Peneliti Utama Litbang Depag ini, KDRT tidak melulu berwujud kekerasan fisik, namun bisa juga dengan melukai batin pasangan atau anak-anak secara terus menerus dan berlebihan.Selain itu, dalam beberapa penelitian menunjukkan, praktek poligami telah mengakibatkan penelantaran anak. Akibatnya anak tumbuh dengan kurang perhatian dan kasih sayang."Selain itu, kerap kali muncul kasus ketidakharmonisan antar keluarga, baik keluarga istri tua, istri muda, suami, dan dalam keluarga kecil itu," imbuh penulis buku Pandangan Islam tentang Poligami ini.Menurut dia, tidak ada kalimat dalam Al Qur'an yang menyatakan poligami halal. Bahkan Nabi Muhammad pun pada awal pernikahannya tidak melakukannya. "Kalau berpikir mau poligami, kan dari awal Nabi berpoligami. Buktinya sejak istri pertamanya wafat, Nabi menduda selama 3 tahun," beber Musdah.Selain itu, saat berpoligami, Nabi Muhammad memperistri Saudah, perempuan berusia sekitar 65-73 tahun yang telah memasuki massa menopause. Selain itu, dinikahi pula perempuan dari berbagai suku dengan tujuan mendapat back up dalam perjuangannya.Dijelaskan perempuan kelahiran Bone Sulawesi Selatan ini, poligami telah dipraktekkan secara luas sejak massa Arab Jahiliyah di abad 7 Masehi. Saat itu bahkan seorang pria bisa beristri hingga 200 orang. "Sangat mustahil mencari pria beristri satu pada saat itu," tandas Musdah.
(nvt/nvt)











































