Kolom
DPR Kodok
Selasa, 05 Des 2006 17:37 WIB
Den Haag - Seks, studi banding, rock & roll. Skandal seks Yahya Zaini bisa disusul ledakan skandal anggota DPR berikutnya. Itu cuma puncak gunung es dari dekadensi moral di DPR. Anggota DPR sudah masuk jurang dekadensi moral. Ayo siapa masih bisa membela? Dari ketamakan menyedot anggaran APBN untuk memanjakan diri sendiri (tak peduli pos sosial untuk rakyat miskin dan pendidikan tidak kebagian), menjadi makelar proyek, korupsi, hingga masalah main perempuan dan perselingkuhan. Janji-janji palsu selama pemilu semuanya masih kalah kaliber dari deretan kasus di atas itu.Masyarakat dan pers sudah pegel linu mengingatkan arah perkembangan DPR yang sudah sangat memprihatinkan itu. Tapi semua itu tidak nyambung, sebab mereka telah berubah menjadi kodok-kodok di kuali DPR, terlanjur nyaman berada di sana. Keadaan ini telah membatasi kemampuan kognitif inheren mereka. Dunia di luar kuali? Orrek, orrek (bunyi kodok)... ah, tak thorrek thorrek, tak kenal.Proses metamorfosa 'wakil-wakil rakyat' menjadi kodok-kodok itu semuanya terbebankan kepada rakyat. Bisa dikatakan orang-orang yang menganggur, putus sekolah, makan Senin-Kamis, secara tidak langsung adalah korban kodok-kodok ini. Gaya hidup mereka berubah total dari habitat sawah ke kuali-kuali mewah. Akibatnya harus dicari sumber pembiayaan untuk mengkompensasinya. Modusnya macam-macam, dari yang ilegal hingga berbuntut proses hukum, sampai yang nampak legal tapi tidak mendapat kerelaan masyarakat luas: studi banding. Arus studi banding ke luarnegeri yang deras ini sebenarnya memuat bom waktu yang siap meledak. Karena mabuk kepayang, semua nafsu terturuti tanpa ada yang bisa mencegah, orang-orang DPR itu sampai tidak sadar bahwa titik-titik kunjungan 'studi banding' mereka diamati dan dicatat orang. Sudah beredar suara-suara minor bahwa studi banding itu memang, dengan nada sarkastis dan kelakar, benar-benar studi banding yakni: untuk membandingkan si bini dan si blonde. Karena sensasi si blonde itulah, maka studi banding DPR Indonesia ke luarnegeri menggila sepanjang catatan sejarah. Miliaran (sejak 2000) uang rakyat dihamburkan, tapi hasilnya?Semua orang masih bisa membantah atau menganggapnya dongeng sepele kelas sopir-kernet Cipete, sebelum bukti keras seperti menimpa Yahya Zaini beredar di permukaan. Namun setidaknya cerita minor seperti itu membuat citra DPR makin bonyok saja. Yang gawat, studi banding tersembunyi itu sewaktu-waktu bisa meledak menjadi skandal besar dengan mengambil bentuk dan skenario lain. Di antara anggota DPR yang keluyuran itu siapa bisa menjamin orang yang mengantarkannya tidak keseleo lidah?Skandal seks Yahya Zaini seharusnya menjadi letupan yang membuat kalangan DPR terhenyak untuk bangun. Kuali sudah kotor, pengap dan temperatur sudah panas. Bangun. Keluarlah dari kuali dan perhatikan sekitar. Kalau tidak, nanti bisa matang jadi swike. Kembali jadi manusia sesuai idealisme masing-masing, yang meletup-letup saat merengek-rengek kampanye minta suara. Stop, berhenti jadi kodok sampai di sini.
(es/es)











































