Diterangi Lilin, Pedagang Tanah Abang Blok C & E Masih Jualan
Selasa, 05 Des 2006 11:35 WIB
Jakarta - Dengan diterangi lilin dan bahkan rela gelap-gelapan, pedagang Pasar Tanah Abang Blok C dan E masih menggelar dagangannya. Pedagang belum mengosongkan kiosnya meski deadline telah habis.Puluhan kios di Blok C tetap buka dan aktivitas jual beli berlangsung seperti biasa. Lantaran aliran listrik telah dimatikan, beberapa pedagang tampak menyalakan lilin dan lampu darurat untuk menerangi kiosnya. Bahkan ada beberapa pedagang yang rela jualan dalam keadaan gelap-gelapan.Nah, pedagang di Blok C dan E di-deadline mengosongkan kiosnya pada Selasa 5 Desember 2006. Sebab, belum ditentukan tempat pengganti berjualan."Saya bukan melawan. Tetapi negosiasi, kesepakatan harus ada dulu. Nggak usah takut nanti akan diintimidasi. Kita bukan pedagang liar kok, kita bayar bulanan," kata Ahong (40), pedagang kain di lantai dasar Blok E, Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (5/12/2006)."Saya buka karena karyawan mau dikemanakan. Mereka punya tanggungan. Mereka dapat uang makan harian selain gaji bulanan," lanjutnya.Hal serupa juga dilakukan Butung, pedagang di Blok C. "Kita pedagang belum ada kesepakatan. Saya masih tetap dagang di sini kok, cuma sebagian dipindahin. Takut ada apa-apa barang bisa hilang. Mau ke Blok A harganya mahal," kata Buyung.Demikian pula dengan Manto, pedagang kelontong di Blok E. Pedagang sayur-mayur ini nekat berjualan karena belum menerima surat pemberitahuan mengenai lokasi kios sementaranya."Ada kabar Jumat tanggal 8 Desember batas akhirnya. Semua tukang sayur, daging dipindahkan ke tempat sementara di atas Kali Kruput, perbatasan Blok E dan F," ujar Manto.Aktivitas perdagangan di basemen Blok E masih normal. Tidak ada satu pun toko yang tutup. Tukang kelontong, sayur-mayur, daging, bumbu masak tetap menggelar dagangannya. 1.000 Personel polisi tampak berjaga-jaga dan patroli di kawasan itu.Sementara itu, suasana Blok B dan D tampak sepi. Pedagang telah mengosongkan kiosnya dan pindah ke Blok A pada 4 Desember 2006. Beberapa pedagang terlihat masih mengemas-ngemas barang miliknya yang tertinggal.
(aan/sss)











































