Catatan Haji

Dam Bisa Dibayar di Tanah Air?

- detikNews
Selasa, 05 Des 2006 08:28 WIB
Madinah - Sampai saat ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) berpendapat Dam (denda pelanggaran dalam berihram) harus dibayar di Tanah Suci. Tapi ada wacana lain, Dam bisa dibayar di tanah air."Kalau saya pribadi melakukan itu (membayar dam di tanah air). Jadi kalau saya pergi haji (tamattu), saya potong hewan kurban dan Dam di Indonesia," kata Kepala Staf Teknis Urusan Haji Indonesia, Nur Samad Kamba di kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah, Selasa (5/12/2006) seperti dilaporkan wartawan detikcom Djoko Tjiptono langsung dari Makkah.Menurut Nur Samad, pendapatnya tersebut tidak terlepas dari tujuan pembayaran dan penyeluran Dam itu sendiri. Daging hewan Dam itu wajib disalurkan kepada para fakir miskin."Anda coba pergi melihat penyembelihan hewan di sini (Arab Saudi), mubazir! Unta tergeletak begitu saja setelah dipotong. Hanya ada orang yang mengambil hatinya untuk dijual lagi, tapi dagingnya tidak," tutur Nur Samad.Menurut Nur Samad, perdebatan bahwa hewan Dam harus dibayarkan atau disembelih karena selama ini kita cenderung terjebak pada tekstual aturan mengenai masalah ini. Padahal yang jauh lebih penting adalah melaksanakan tujuan Dam itu sendiri."Tapi harusnya kita melihat tujuan dari Dam ini, yakni untuk fakir miskin. Jadi di mana saja boleh. Ini bentuk kepedulian Islam terhadap fakir miskin. Ini juga bisa membangun solidaritas sosial yang luar biasa. Jadi menurut saya, kalau Dam itu disembelih di rumah lalu kita bagikan ke seluruh tetangga, Masya Allah pahalanya lebih besar," tegas Nur Samad.Diakui Nur Samad, penyembelihan hewan di Tanah Air sampai saat ini belum disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia. Namun demikian dia yakin, wacana penyembelihan hewan Dam di Tanah Air ini akan terus berkembang."Masalah ini sudah didiskusikan dengan MUI tapi tidak pernah selesai. Tapi suatu saat pasti akan bisa. Ya ini karena (pemahaman) tekstual tadi," tutur Nur Samad.

(bal/bal)