SBY: Kerjasama Nuklir Harus Serius
Senin, 04 Des 2006 14:39 WIB
Jakarta - Pemerintah RI dan Korea Selatan menandatangani kesepakatan kerja sama mengembangkan pembangkit energi nuklir. Tetapi entah kapan proyek strategis itu akan direalisasikan di Tanah Air. Dokumen kesepakatan kerjasama penggunaan nuklir untuk tujuan damai ditandatangani oleh Menlu Hassan Wirajuda dengan koleganya dari Korea Selatan, Min Soon. Penandatanganan disaksikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Roh Moo-hyun di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (4/11/2006). "Seperti yang dilaksanakan hampir semua negara, kerjasama di bidang penggunaan nuklir mesti dilanjutkan secara sungguh-sungguh dan serius. Agar suatu saat ketika Indonesia harus memilih, kita sudah ketahui betul plus dan minus teknologi itu. Tentu sesuai mekanisme pengambilan keputusan yang berlaku," kata Presiden SBY. Pengadaan pembangkit energi listrik bertenaga nuklir dirintis sejak lama. Pemerintah menyadari suatu saat kelak hanya energi nuklir yang jadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Tanah Air yang terus melonjak. Penandanganan dokumen tersebut merupakan bagian dari upaya penyiapan pengadaan PLTN yang rencananya akan dibangun di di Tanjungjati, Jepara, Jawa Tengah. Tahun lalu Presiden SBY pun telah pula meninjau fasilitas PLTN milik Korsel di Busan. Korsel merupakan satu dari empat negara di dunia dan satu-satunya di Asia Timur yang memiliki reaktor nuklir untuk keperluan damai. Sedikitnya saat ini ada 20 unit PLTN yang tersebar di seluruh Korsel.
(lh/nrl)











































