Clinton Kritik BRR Soal Pembangunan Barak Pengungsi

Clinton Kritik BRR Soal Pembangunan Barak Pengungsi

- detikNews
Minggu, 03 Des 2006 00:45 WIB
Aceh - Pembangunan barak bagi pengungsi korban tsunami Aceh tak kunjung tuntas. Hal ini mengundang kritik dari Utusan PBB untuk korban Tsunami Bill Clinton. Dia meminta agar Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh Lebih memperhatikan korban tsunami yang tinggal di barak."Harus dibuat sistem khusus agar tidak ada korban yang luput dari perhatian. Para korban ini perlu diperhatikan agar mereka tidak kesusahan," kata Bill Clinton dalam konferensi pers di SD Negeri I Peukan Bada, Lamjane, Aceh Besar, Sabtu (2/11/2006).Clinton juga meminta agar di masa yang akan datang, upaya kerjasama antara pemerintah Indonesia, mitra serta negara donor terus diperkuat dalam membantu para korban tsunami yang tinggal di barak."Agar mereka dapat tinggal di tempat yang lebih layak," cetus Clinton.Namun lontaran pujian pun dikemukakan mantan Presiden AS ini atas usaha yang telah dilakukan BRR dalam pembangunan rumah permanen bagi para korban tsunami.Saat konferensi pers tampak hadir Kepala BRR Kuntoro Mangkusubroto, Menkominfo Sofyan Djalil, Pj Gubernur NAD Mustafa Abu Bakar, dan Wakil dari GAM Malik Mahmud.Sebelumnya Clinton sempat mengunjungi barak pengungsi sementara di Lhoong Raya. Dia sempat berdialog dengan para pengungsi. Dalam kesempatan itu, seorang pengungsi Cut Zarmiati menyampaikan keluhannya kalau para pengungsi ingin segera pindah ke rumah permanen.Mendengar keluh kesah para pengungsi, Clinton pun menyampaikan janjinya bahwa para pengungsi yang tinggal di barak akan diupayakan untuk segera dipindahkan ke rumah yang layak dan permanen.Beberapa hari lalu, Clinton juga sempat berkunjung ke Thailand dan Srilangka. Dia melakukan rangkaian kunjungan kepada para korban tsunami yang berada di negara tersebut.Dalam kunjungannya ini, Clinton pun menyempatkan diri bertemu dan berdialog secara khusus dengan para petinggi GAM di SD Negeri I Peukan Bada. Clinton pun menegaskan kalau GAM tetap berkomitmen dengan perdamaian. Tak lama berada di Aceh, sekitar 2 jam, pukul 17.30 WIB, Clinton melanjutkan perjalanan menuju Papua Nugini. (ndr/ndr)



Berita Terkait