Aa Gym Dihujani SMS Soal Pernikahan Kedua

Aa Gym Dihujani SMS Soal Pernikahan Kedua

- detikNews
Sabtu, 02 Des 2006 08:32 WIB
Jakarta - Posisi Aa Gym sebagai figur publik membuat dirinya tak pernah lepas dari sorotan. Ceramah subuh berdurasi 1 jam yang disiarkan melalui 150 stasiun radio dalam dan luar negeri, diisi dengan pembahasan mengenai pernikahannya dengan isrti keduanya, Rini.Seperti hari sebelumnya, dalam ceramah bertajuk Manajemen Qalbu Pagi yang disiarkan Sabtu (2/12/2006) sejak pukul 05.00 WIB, Aa Gym kembali meminta pengertian masyarakat atas keputusannya ini. Aa juga menceritakan telepon selularnya dihujani SMS yang mempertanyakan, maupun memprotes pernikahannya itu."Aa dan Teteh betul-betul hujan SMS. Dua per tiga SMS yang masuk ke Aa menjadi ujian latihan kesabaran. Karena jarang kata-kata yang tegas masuk. Kalau ke Teteh, ya dukungan moril, semangat, belasungkawa, empati. Satu sampai dua mempertanyakan," ujar Aa yang mengisi ceramahnya dari Malaysia.Aa kemudian mempertanyakan mengapa banyak kaum wanita, terutama ibu-ibu melarang dirinya berpoligami. Aa mengaku pernah melakukan survey kecil-kecilan selama 5 tahun. Hasilnya, zina tendensinya meningkat, masyarakat semakin permisif terhadap perzinahan. Di sisi lain, tambah Aa, poligami dianggap perbuatan yang tercela. "Mendengarnya saja seperti kejahatan, pelanggaran HAM. Yang melakukan dicemooh, dihina, yang istri keduanya diremehkan, dianggap merebut suami orang," ujar Aa prihatin.Selama ini Aa mengaku sering menerima nasihat dari jamaahnya, pertama untuk tidak berpolitik, dan kedua, untuk tidak berpoligami. "Nasihat jangan poligami ini dari ibu-ibu," timpalnya.Aa kemudian mencontohkan SMS yang masuk ke telepon selularnya. "Ini ada SMS yang luar biasa isinya. SMS itu bunyinya 'Aa Gym harus buka soal pernikahan Aa, supaya anda tidak dibilang munafik, membohongi, anda jangan jual moral dengan berlindung di balik agama," beber Aa.Pria yang kerap bersorban ini juga mengaku menerima SMS lain yang lebih tajam isinya."Aa kadang cemas dengan orang-orang yang menuntut Aa jadi panutan. Seakan panutan seperti Suparman (Superman--red), harus serba sempurna. Kasihan juga Teteh, kelihatannya harus jadi wanita yang ideal juga. Ini banyak baiknya, tapi banyak bahayanya juga," urai Aa.Dia menyarankan agar publik menilainya proporsional dan tidak emosional. "Harus melihat Aa dan Teteh sebgai manusia yang berproses dan jatuh bangun. Tidak mau dianggap sebagai orang yang Superman," pintanya.Pria bernama asli Abdullah Gymnastiar ini juga bercerita beragamnya reaksi jamaah gara-gara adanya pemberitaan di media massa "Ada yang tidak mau beli buku, ada tidak mau dipotret," pungkasnya. (fjr/fjr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads