Laporan Dari Rusia
RI-Rusia Teken 7 Kesepakatan
Sabtu, 02 Des 2006 01:09 WIB
Moskow - Pemerintah Indonesia dan Rusia menandatangani 7 nota kesepahaman di bidang pertahanan, politik, ekonomi dan hukum. Penandatangan itu merupakan hasil dari kunjungan Presiden SBY ke Rusia selama 3 hari.Ketujuh nota kesepahaman yang ditandangani yaitu, kerjasama eksplorasi luar angkasa untuk maksud damai, kerjasama penggunaan energi atom untuk maksud damai, kerjasama antar kejaksaan agung, perlindungan intelektual dalam kerjasama teknik militer.Selain itu juga nota kesepahaman dalam bantuan implementarsi militer Rusia-Indonesia 2006-2010, pembebasan visa kunjungan singkat untuk dan kepentingan dinas dan diplomatik, dan terakhir, kerjasama bidang pariwisata.Penandatanganan kesepakatan itu disaksikan oleh Presiden SBY dan Presiden Vladimir Putin di ruang Malachite Fuyet, Istana Kepersidanan Rusia Kremlin, Moskow, Rusia, Jumat (1/12/2006). Seperti dilaporkan reporter detikcom Nurul Qomariyah yang mengikuti perjalanan SBY. Sebelum penandatangan, SBY dan Putin melakukan pembicaraan empat mata atau tete a tete. Selanjutnya dilakukan pembicaraan bilateral. Sejumlah menteri yang ikut dalam pembicaraan bilateral itu antara lain Menko Perekonomian, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri Perhubungan, Panglima TNI, serta Sekjen Dephan.Dalam pertemuan empat mata dengan Presiden Putin, Presiden SBY mengharapkan kunjungan kenegaraannya kali ini bisa memperluas kerjasama dan kemitraan kedua negara di segala bidang. Sementara Presiden Putin mengatakan bahwa sejak kedua negara menandatangani nota kerjasama dan kemitraan pada 2003, hubungan antar kedua negara terus berkembang baik di bidang politik dan ekonomi. Putin juga mengucapkan selamat kepada Pemerintah Indonesia yang terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB dalam dua tahun mendatang dan mengharap agar hubungan kedua negara terus semakin erat di gelanggang internasional. Di bidang kerjasama perdagangan, menurut Putin, nilai perdagangan Rusia dan Indonesia sudah mencapai sekitar US$ 500 juta dolar AS."Jumlah ini belum cukup dan diharapkan bisa mencapai US$ 1 miliar dolar AS. Kami terus bekerjasama di bidang kerjasama militer dan kami sangat senang menyambut kedatangan presiden Yudhoyono di negara kami," ujar Putin. Dalam pembukaan pertemuan bilateral itu, Presiden Putin mengatakan bahwa hubungan kemitraan antar kedua negara memiliki peluang dan prospek yang cerah di berbagai bidang seperti perdagangan, militer, budaya, serta bidang lainnya."Kami memandang Indonesia mitra utama kami di kawasan Asia Pasifik. Kami juga merasakan bahwa kami memiliki banyak kesamaan dalam berbagai persoalan seperti dalam menangani berbagai masalah internasional," katanya. Sedangkan dalam keterangan pers bersama dihadapan wartawan lokal dan wartawan dari Indonesia usai pertemuan bilateral itu, Putin menjelaskan juga mengenai peluang untuk meningkatkan kerjasama di bidang kedirgantaraan, nuklir dan kerjasama militer. Sementara di bidang ekonomi, disepakati untuk meningkatkan volume perdagangan secara drastis dan skala yang lebih luas dalam waktu dekat. Kerja sama lain yang disepakati adalah di bidang penanganan bencana alam, dan pariwisata. Dikatakan Putin, kedua negara juga sepakat untuk mendoron PBB untuk menjaga stabilitas keamanan internasional. Putin juga mendukung Indonesia sebagai anggota tidak tetap PPB dan mendorong untuk dilakukan koordinasi lebih dekat di bidang politik luar negeri. Putin juga menyinggung tentang peningkatan hubungan kerjasama di bidang antar agama, terutama mengingat kedua negara adalah negara dengan penduduk yang multi agama. Sementara presiden SBY mengatakan, Rusia adalah negara yang penting dan mitra yang besar bagi Indonesia. Kerjasama bilateral yang disepakati untuk ditingkatkan mencakup pertahanan dan teknik pertahanan, energi, investasi dan perdagangan, teknologi dirgantara dan nuklir untuk kepentingan damai, olahraga dan pariwisata. Menurut SBY, Rusia juga memiliki peran yang menentukan dalam menjaga kondisi politik internasional dan memiliki kesamaan pandangan dalam melihat berbagai masalah internasional saat ini. "Kami juga membicarakan isu-isu bilateral seperti perkembangan di Irak, Lebanon, Palestina, Iran, Korut dan Irak. Kami juga merasakan bahwa posisi Rusia mirip dengan Indonesia. Dan kami harap dalam dua tahun mendatang akan ada konsultasi dengan Rusia tentang peranan kedua negara di PBB," beber dia.
(qom/fjr)











































