Tak Buat PR, Siswi Dicubit Maut

Tak Buat PR, Siswi Dicubit Maut

- detikNews
Kamis, 30 Nov 2006 01:21 WIB
Palembang - Lantaran tak membuat pekerjaan rumah atau PR, seorang siswi SMP Tunas Bangsa, Palembang dicubit seorang guru hingga memar. Akibatnya, anak bernama Vanny Frisca itu harus berobat ke dokter dan beristirahat beberapa hari. "Saat kami mau mengkonfirmasikan kepada guru dan kepala sekolahnya, mengapa Vanny dihukum dengan cara itu, justru anak saya disuruh untuk pindah sekolah," kata ibu Vanny, Susi Anggraeni saat mengadu ke Yayasan Puspa Indonesia, sebuah lembaga advokasi anak, di Jalan Radial Palembang, Rabu (29/11/2006). Memar yang diderita Vanny akibat cubitan itu cukup parah. Kedua pangkal paha Vanny mengalami memar biru sebesar dua uang logam. Bahkan, memar di pangkal lengannya juga tampak luka bekas kuku dari si guru. Peristiwa ini bermula pada 14 November, saat mata pelajaran Seni Suara dan Musik, masuk guru mereka yang bernama Karlina. Hampir semua anak di kelas III.3 tidak mengerjakan PR. Mereka kemudian dipanggil ke muka kelas. Satu per satu, mereka ditanya oleh sang guru. Sambil bertanya guru itu memegang paha para siswa, baik perempuan maupun laki-laki. Apa pun jawabannya, mereka tetap dicubit. Salah satunya Vanny. Pekan depannya pada 28 November, anak-anak yang tidak membuat PR kembali dihukum, termasuk Vanny. Ini kali kedua pangkal tangannya yang menjadi korban. Akibat dihukum itu, Vanny menangis. Setelah ditelpon, datanglah sang ibu ke sekolah untuk menemui kepala sekolah Titi Sumarti. Saat ditanya kenapa dihukum seperti itu, si kepala sekolah justru menjawab, Vanny memang malas. Bahkan, si kepala sekolah mengancam untuk pindah sekolah apabila tidak senang. Kemudian Rabu pagi (29/11/2006), Vanny dipanggil kepala sekolah. Dia pun diminta segera pindah dari sekolah itu apabila tidak senang dihukum seperti itu. "Apa pun yang dilakukan guru itu tetap salah. Itu pendidikan yang salah. Seharusnya guru tidak melakukan tindak kekerasan. Kita akan memproses kasus ini, termasuk kemungkinan ke polisi," kata Kepala Advokasi Yayasan Puspa Indonesia Tarech Rasyid. Peristiwa ini membuat Vanny ketakutan ketika hendak berangkat ke sekolah. "Aku takut ke sekolah, kagek (takut) diancam kepala sekolah lagi, dan guru itu (Karlina)," katanya. (tw/wiq)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads