Mayjen (Purn) Sumarsono Mundur dari Sekjen PDK
Rabu, 29 Nov 2006 15:17 WIB
Jakarta - Pemilu 2004 lalu, partai ini mendapat suara minim, di bawah electoral threshold. Kini, partai ini dirundung masalah. Inilah nasib Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PDK), pimpinan mantan Menteri Otonomi Daerah Ryaas Rasyid. Mayjen (purn) Sumarsono tiba-tiba mundur dari kursi Sekjen. Sumarsono yang baru menjadi sekjen setahun terakhir, mengundurkan diri karena merasa tidak ada kecocokan dalam mengurus partai yang lahir pada 2002 lalu ini. Alasan pengunduran Sumarsono terlihat jelas dari surat pengunduran diri Sumarsono tertanggal 25 November 2006. Dalam surat pengunduran dirinya, Sumarsono mengaku selama mengabdi setahun di PDK, terdapat kendala psikologis kronis dan profesional yang meliputi bidang manajemen, hubungan interpersonal, dan etika. Sebagai pengurus Dewan Pimpinan Nasional (DPN), Sumarsono mengaku sudah berusaha membesarkan dan meningkatkan wibawa partai PDK. Dia juga sudah berusaha menyesuaikan diri dan menata administrasi serta mekanisme organisasi. Namun semua itu tidak berhasil, karena adanya perbedaan prinsip, behavior dan kepentingan dalam berorganisasi, meskipun berada dalam satu naungan partai. "Sehubungan itu itu, walau saya sangat mencintai Partai PDK, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari kepengurusan DPN sebagai Sekjen dan keanggotaan Partai PDK," tulis Sumarsono dalam surat pengunduran dirinya itu. Pengunduran diri Mayjen Sumarsono ini dibenarkan pengurus DPN PDK di Jakarta. Menurut salah satu unsur pimpinan DPN PDK, Rapiudin Humarun saat dihubungi detikcom, Rabu (29/11/2006) mengatakan, bahwa pengunduran diri Mayjen Sumarsono bukan karena konflik internal partai, tapi karena keterbatasan waktu."Saya sendiri baru terima suat pengunduran dirinya kemarin. Bapak Sumarsono mundur karena kesibukannya sehingga tidak bisa membagi waktu ke partai," kata Rapiudin. Sementara itu, Presiden Partai PDK, Ryaas Rasyid ketika dikonfirmasi detikcom, mengatakan, belum bisa memberikan penjelasan secara rinci atas pengunduran diri Sumarsono. Ryaas mengaku belum bertemu Mayjen Sumarsono dan belum menerima surat pengunduran tersebut."Konon memang ada surat ke mana-mana, namun surat pengunduran itu tidak diberikan kepada saya. Mestinya kalau mundur, suratnya ke saya dulu karena saya yang angkat sebagai Sekjen, bukan kongres," kata Ryaas dalam sms-nya yang diterima detikcom. Ryaas menyebut, secara etika harus ada penjelasan tentang alasan pengunduran diri Sumarsono. Setelah pengunduran dirinya diterima, baru bisa pamintan ke semua pihak. Sampai saat ini, menurut Ryaas, Sumarsono tidak pernah bicara apa pun tentang kesulitan, hambatan, atau keluhannya selama memimpin Sekjen di PDK."Tiba-tiba ada isu beredar tentang surat pengunduran dirinya. Mudah-mudahan dalam wakut dekat ada pertemuan dengan beliau. Setelah itu saya akan beri penjelasan secara kronilogis, termasuk mengapa beliau dulu saya angkat dalam posisi itu," kata Ryaas.
(cha/asy)











































