Kasat Intel Nyaris Nodai Siswi SMP
Selasa, 28 Nov 2006 18:59 WIB
Ambon - Niatnya menolong, tapi meminta bayaran seks. Demikian laku bejat oknum polisi, AKP JS, terhadap gadis yang baru menanjak remaja, HI (13). Siswi SMP Negeri 1 Bula, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) ini terpaksa menanggung malu. AKP JS sehari-hari menjabat sebagai Kepala Satuan Intelijen (Kasat Intel) Polres SBT. Kasus ini pun mendapat simpati dari 500 pelajar se-kota Bula. Mapolres SBT dan gedung DPRD SBT jadi sasaran demo pelajar dan masyarakat yang mengatasnamakan 'Forum Solidaritas Muslim' dan 'Forum Solidaritas Pelajar.' Berbagai poster dan spanduk bernada kecaman terhadap institusi kepolisian dibentangkan. Para pelajar dan warga menuntut pemecatan terhadap JS. Mereka juga meminta Kapolres SBT untuk menindak tegas anak-anak buahnya, karena selalu bikin ulah di kota Bula.Kasus yang sudah terjadi Jumat (24/11/2006) lalu dan baru diketahui setelah adanya protes keluarga korban dan aksi demo hari ini, sebenarnya sudah dilaporkan orangtua korban. Namun, laporan itu tidak mendapat tanggapan serius Polres SBT. "Kami sudah lapor, bahkan sudah tiga kali mendatangi kantor polisi, tapi tidak ditanggapi serius," ujar orang tua korban, MI (53) didampingi beberapa guru dari sekolah korban.Berikut penuturan sang gadis yang nyaris jadi korban kebuasan JS, kepada detikcom di kediamannya, di Bula, SBT, Selasa (28/11/2006): Berawal dari menanti angkot yang tak kunjung datang, sementara hari beranjak gelap, tiba-tiba siswi SMP ini dikejutkan dengan berhentinya sebuah mobil pribadi tepat di depannya. Setelah kaca mobil dibuka, seseorang yang berada di dalam mobil yang ternyata polisi ini pun menyapa. "Mau ke mana dik?" tanya sang polisi. "Ke kota Bula Pak," jawab sang gadis. "Ayo silakan. Tidak ada lagi kendaraan," ujar polisi yang berinisial JS itu. Melajulah kendaraan yang hanya ditumpangi HI dan JS. Mobil sempat berhenti sesaat, karena JS ingin membeli minuman ringan. Setelah itu mobil melaju lagi. Nah, di perjalanan yang melewati hutan belantara ini, nafsu bejat JS ini pun sampai ke ubun-ubun. Tak pelak, sang gadis yang baru duduk di kelas 2 SMP ini, dipaksa untuk memainkan 'burung' milik oknum polisi bejat ini. Karena tak tahan, sang polisi ingin melucuti celana HI. HI jelas menolak. Tapi, siapa sih siswi yang tidak takut sama polisi. Tapi, HI lantas memberanikan diri untuk melarikan diri. "Sebentar pak, saya letakkan tas dulu," ujar HI. Begitu JS lengah sedikit, HI tidak membuang-buang kesempatan lagi untuk melarikan diri. HI pun melarikan diri menuju hutan belantara. "Hingga pukul 24.00 WIT, saya sembunyi. Saya sangat takut. Saya pun keluar dari hutan dan menunggu mobil yang lewat. Sampai pagi hari saya baru dapat tumpangan dan langsung menuju rumah melaporkan kasus ini kepada ayah saya," tutur HI sambil menyeka air matanya.Terkait kasus ini, Wakapolres SBT Kompol Rudi Hartawan berjanji menindaklanjuti kasus ini. "Kami akan proses kasus ini sesuai dengan tindakan pelaku," ujar Wakapolres.Di tempat terpisah, Wakil Ketua DPRD SBT, Yusuf Paitaha, kepada detikcom mengatakan akan menekan Kapolres SBT untuk menindak tegas anak buahnya. "Kami akan kawal terus kasus ini dan kami minta Kapolres untuk menindak tegas anak buahnya yang bejat," ujar Yusuf.Direncanakan, Rabu (29/11/2006) besok, forum bentukan para pelajar ini akan melaporkan kasus ini kepada Kapolda Maluku di Ambon.
(han/asy)











































