Berebut Suara 2,6 Juta Pemilih

Pilkada Aceh (1)

Berebut Suara 2,6 Juta Pemilih

- detikNews
Selasa, 28 Nov 2006 05:55 WIB
Banda Aceh - Pilkada di bumi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tinggal hitungan hari. Delapan calon yang bertarung untuk memperebutkan posisi orang nomor satu di NAD telah mengeluarkan jurus-jurus guna memikat hati sekitar 2,6 juta pemilih. Tapi agaknya para pemilih tak begitu ambil pusing."Kalau dana korban konflik tak sampai juga sebelum Pilkada nanti, jangan harap kami mau ikut Pilkada," ujar Agusalim, perwakilan warga Desa Glumpang Mane, Kecamatan Mane, Kabupaten Sigli, usai berdemo di kantor Aceh Monitoring Mission (AMM) pada wartawan, Senin (27/11) kemarin. Dikatakan Agusalim, dalam perjanjian yang mereka sepakati bulan lalu, Pemda dan Badan Reintegrasi Aceh (BRA) berjanji akan memberikan dana bagi korban konflik --yang merupakan dana reintegrasi-- sebesar Rp 10 juta per jiwa. Janji itu kemudian diteken setelah mereka berunjuk rasa ke kantor BRA dan kantor gubernur, bulan lalu. Beberapa hari lalu, pihak BRA yang diwakili BPK memang menyalurkan dana bantuan untuk sekitar 1.300 warga korban konflik di Kecamatan Mane. Tapi sayangnya, dana yang turun hanya Rp 170 juta."Jadi, kalau kami bagi untuk 1.300 jiwa yang terdaftar sebagai korban konflik di Mane, per orangnya kami tak lebih dapat Rp 115 ribu," katanya lagi.Untuk itu, jika tak kelar juga, warga Mane tak akan ikut Pilkada. "Apa gunanya kami ikut Pilkada, kalau pemerintah tak mau menepati janjinya. Pokoknya kami tak mau ikut Pilkada jika ini tak selesai," tandasnya.Pernyataan Agusalim itu agaknya diamini banyak orang. Selain warga Mane, beberapa warga di Banda Aceh dan Aceh Besar yang ditemui detikcom juga tak mau ambil pusing dengan pesta demokrasi yang akan digelar pada 11 Desember mendatang."Kebanyakan janji para calon-calon itu. Nasib kami masih begini-begini juga. Sudah hampir dua tahun sejak tsunami, tapi kami masih saja tinggal di barak. Kalau mereka tak ada berbuat untuk para korban tsunami ini, buat apa ikut Pilkada. Capek saja kita," tutur Maimunah, salah seorang penghuni barak korban tsunami di kawasan Lhoong Raya, Banda Aceh pada detikcom, Selasa (28/11/2006).Maimunah mungkin bukan mewakili sekitar 70.000 jiwa para korban tsunami yang sampai saat ini masih tinggal di barak pengungsian, tapi boleh jadi banyak di antara warga barak yang sependapat dengan Maimunah.Mukhtar, penghuni barak di kawasan Kahju, Aceh Besar, juga punya pernyataan yang hampir sama. "Saya tidak tahu apakah saya ini sudah terdaftar atau belum sebagai pemilih. Dan saya juga tidak perduli, terdaftar atau tidak. Karena bagi kami ini sekarang, siapapun yang nanti menang, apa bisa memindahkan kami ke rumah. Itu saja," katanya sembari menambahkan kemungkinan besar dirinya tidak akan ikut memilih.Memang tak semua warga melontarkan pernyataan tak mau ikut Pilkada. Seperti pengakuan beberapa warga di Desa Ulee Tuy, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, ketika ditemui detikcom Minggu 26 November kemarin, salah seorang isteri kandidat membagi-bagikan paket berisi baju dan handuk di desa tersebut."Ya, kami ikut Pilkada nanti. Tapi siapa yang mau kami pilih, lihat nanti. Kami ambil paket ini bukan berarti kami pilih dia. Pokoknya kami ikutlah nanti," ujar Bungsuwati, seorang warga Ulee Tuy.Pernyataan senada juga dituturkan Rismawati, warga Desa Ulee Tuy lainnya. "Tadi, disuruh ke meunasah (masjid kecil di desa-Red), kami pergi karena katanya ada calon yang mau ikut Pilkada datang. Saya kira ada bagi-bagi uang, rupanya cuma bagi paket ini. Lumayan jugalah. Ya, kami ikutlah nanti Pilkadanya. Tapi belum tahu mau milih siapa. Lihat gambarnya (foto calon -Red) yang bagus saja nanti, itu yang dipilih," katanya sembari tertawa.Suara sekitar 2,6 juta pemilih memang beragam. Untuk memilih siapa yang memenangkan suara, diperkirakan akan terjadi dua kali putaran dalam Pilkada di Aceh nanti. Para kandidat, sebagian besar mengklaim memiliki banyak kantong suara di daerah-daerah tertentu, meski sebagian lainnya merahasiakan daerah-daerah di mana mereka dipastikan akan meraup suara. Para pemilih disodori beragam janji-janji manis yang ditebar di sejumlah baliho dan spanduk yang menghiasai hampir seluruh kawasan di Aceh. Mulai dari janji memberikan pendidikan dan biaya kesehatan gratis, membuka lapangan pekerjaan, membuat Aceh damai, aman, berdaulat, sejahtera, sampai janji akan mewujudkan pemerintahan yang bersih.Janji boleh ditebar, hati pemlih boleh dipikat. Tapi berapa banyak yang akan ikut memberikan suara belum bisa dipastikan. Yang jelas, agaknya para pemilih sudah bosan dengan janji-janji manis. Konflik dan tsunami sudah membuat mereka letih. Jadi, siapapun nanti yang menang dalam meraup suara pemilih, janji yang sudah ditebar jangan sampai tak ditepati. (ray/nvt)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads