Demi Seliter Minyak Tanah, Warga Rela Antre Sejak Subuh

Demi Seliter Minyak Tanah, Warga Rela Antre Sejak Subuh

- detikNews
Senin, 27 Nov 2006 15:11 WIB
Jakarta - Kesulitan mendapatkan minyak tanah juga dialami warga Kemayoran, Jakarta Pusat. Warga rela antre sejak subuh demi seliter minyak tanah.Begitulah yang dialami warga Kemayoran sejak seminggu belakangan. Sebelum azan subuh berkumandang, mereka keluar rumah hanya untuk menaruh jerigen ke pangkalan minyak tanah.Seperti yang dilakukan Ferri, warga RT 09 RT 02 Kemayoran, Jakarta Pusat. Sejak pukul 04.00 dini hari, dia sudah mengantre di pangkalan minyak tanah milik Pakpahan di kawasan Kepu Dalam.Minimnya jatah minyak, menurut pria berusia 32 tahun tersebut karena persediaan dari agen sudah dikurangi. "Yang biasanya delapan truk tangki, sekarang dikurangi hingga separuh," kata Ferri. "Untungnya harganya belum naik, masih Rp 2.300," tambahnya.Menurut Ferri, harga di tingkat pengecer sudah mencapai Rp 3.000 hingga Rp 3.500 setiap liternya. Makanya warga lebih memilih mengantre di agen atau pangkalan minyak tanah.Pernyataan Ferri diperkuat Abbas, seorang penjual mie pangsit. Pedagang yang menjajakan dagangannya di daerah Kemayoran, harus membeli minyak tanah sampai Pasar Senen. Harganya Rp 3.000 per liter. Dia juga mengaku sempat membeli ke daerah Kwitang, karena di Pasar Senen persediaannya sudah habis. Harganya melonjak menjadi Rp 3.500."Harga ini bagi saya menyusahkan. Untungnya cuma sedikit, harganya naik gede-gedean," keluh Abbas.Antrean serupa juga dirasakan oleh warga Kampung Melayu dan Bukit Duri, Jakarta Timur. Pangkalan minyak tanah di daerah tersebut sudah habis sejak pukul 12.00 siang tadi.Pengamatan detikcom, kebanyakan yang mengantre di dua daerah tersebut adalah pengecer atau penjaja minyak tanah keliling dan ibu-ibu rumah tangga. Untuk setiap pengecer dibatasi hanya 20 liter, sementara untuk kebutuhan memasak dibatasi 2 liter saja."Saya pusing mbak, belinya aja rebutan, dapatnya sedikit," keluh Tono, salah seorang pengecer.Tono lebih beruntung, beberapa temannya malah tidak dapat. Terpaksa mereka mengistirahatkan gerobak di sekitar Kampung Melayu. "Mau bagaimana lagi, Mbak. Nggak dapat, ya tidur aja," ujar salah satu dari mereka dengan nada putus asa. (ana/sss)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait