Jaringan PLN di Pulau Selat Panjang Mati Total
Sabtu, 25 Nov 2006 19:51 WIB
Pekanbaru - Krisis listrik di sejumlah wilayah terpencil di Riau kian mengkhawatirkan. Pulau Selat Panjang Kabupaten Bengkalis, Riau merupakan daerah terparah. Pasokan listrik di wilayah ini adalah 1 berbanding 1 yaitu 1 hari hidup dan 1 hari mati total.Saat ini ada sekitar 50 tenaga listrik PLTD mengalami kerusakan cukup serius. Ini membuat daerah terpecil dan terisolir terus mengalami krisis listrik yang cukup parah. Pulau Selat Panjang, di Bengkalis, Riau, dalam sepekan ini mengalami pemadaman bergilir 1 banding 1.Menurut Manajer Mekanik PLN Wilayah Riau, M Tagor Sijabat saat dihubungi detikcom, Sabtu (25/11/2006), krisis listrik di Selat Panjang sejak 20 November 2006 lalu tepat ketika mesin milik PLN, yaitu BWSc dan Deutz tiba-tiba rusak. Mesin berkapasitas 900 kilo watt dan 250 kilo watt ini diperkirakan baru dapat berfungsi optimal lagi pada awal Desember 2006 hingga Januari 2007 nanti."Awalnya kita melakukan pemadaman bergilir bergilir 5 berbanding 1, yaitu lima hari teraliri listrik, sehari padam. Namun sekarang pemadaman terpaksa dilakukan 1 banding 1," kata Tagor.Dia menjelaskan, sebenarnya kondisi ini tidak perlu terjadi bila ke enam pembangkit listrik milik Pemkab Bengkalis tidak mengalami kerusakan. Namun disayangkan, mesin yang dibeli tahun 2003 sejak awal 2004 tidak bisa berfungsi maksimal.Sebagaimana diketahui, hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) wilayah Riau, ternyata mesin tersebut merupakan barang bekas. Mesin enam unit yang dianggarkan dana sebesar Rp 100 miliar ini dijadikan ladang korupsi oknum pejabat di lingkungan Pemkab Bengkalis. Atas pembelian mesin bekas ini, BPK mempridiksi kerugian negara mencapai Rp 70 miliar."Kalau ke enam mesin ini berfungsi di tambah mesin pendukung dari PLN sebenarnya daya yang dihasilnya mencapai 3 mega watt. Sedangkan kebutuhan masyarakat di Selat Panjang hanya 3,2 MW. Artinya, masih bisa terpenuhi kebutuhan tersebut," tandas Tagor.Kini pulau berpenduduk sekitar 60 ribu jiwa itu, harus rela menerima kenyataan pemadaman bergilir 1 berbanding satu. Pulau yang berada di jalur Selat Malaka ini, bila malam hari gelap gulita. Aktifitas penduduk malam hari pun lumpuh total."Sepekan ini kami mengalami pemadaman bergilir selama 24 jam. Sejauh ini belum ada upaya pemerintah untuk mencarikan solusi atas krisis listrik. Rasanya hidup kami seperti zaman tempo dulu, tanpa PLN hanya lampu teplok untuk menerangi di malam hari," kata Muhamad Bahri salah seorang warga.
(cha/ndr)











































