Ajarkan Dominasi Kultur Mayoritas

Ajarkan Dominasi Kultur Mayoritas

- detikNews
Sabtu, 25 Nov 2006 14:27 WIB
Ajarkan Dominasi Kultur Mayoritas
Den Haag - Dari tiada langsung dapat 9 kursi. Inilah gebrakan Partai Kebebasan. Partai ini memperjuangkan dominasi kultur mayoritas. Berbahaya jika sampai ditiru.Bermula dari rasa terancam dari kelompok minoritas, merembet ke soal pakaian, bahasa, perbedaan keseharian, keamanan, hingga merembet ke soal-soal agama. Dan di era internet ini semua mudah dipantau secara terbuka.Politisi muda Geert Wilders, lahir di Venlo, 6/9/1963, mencium peluang besar. Ia memainkan semua komponen itu untuk target-target politiknya. Langkah besar pertama yang dilakukannya adalah menyatakan menolak Turki masuk menjadi anggota Uni Eropa (UE).Tindakan Wilders yang keluar dari garis kebijakan Volkspartij voor Vrijheid en Democratie/VVD (Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi), tempatnya bernaung ketika itu, menyebabkan para pemimpin partai mengambil sikap untuk menertibkan Wilders. VVD, yang saat itu menjadi mitra koalisi memerintah bersama CDA dan D66, tentu tidak ingin anggotanya bergerak seperti proyektil liar dan mengancam kepentingan Belanda dan UE.Wilders memilih keluar dari VVD pada 2/9/2004, namun ia menolak menyerahkan kursinya kepada partai liberal/konservatif tersebut dan memutuskan mulai tanggal itu untuk jalan sendiri di parlemen sebagai fraksi perorangan. Kemudian sejak 22/2/2006 ia mendirikan Partij voor de Vrijheid (Partai Kebebasan).Wilders sangat percaya diri dengan haluan politiknya dan makin kencang mengeksploitasi isu-isu minoritas, islam dan imigran. Publisis Belanda, Bart Jan Spruyt, mengomentari keputusan Wilders tersebut secara cermat, "Wilders melihat peluang dengan baik. Pada sejumlah besar kelompok masyarakat sentimen Fortuynistis masih tetap hidup. Mereka menemukan ventilasinya pada Wilders." Fortuyn adalah tokoh politik ultrakanan yang menjungkirbalikkan kemapanan sistem politik di Belanda dan meruntuhkan tabu untuk menyoal isu-isu minoritas. Dia tewas dibunuh aktifis lingkungan Volkert van der Graaf pada 6/5/2002 menjelang pemilu.Wilders juga jeli menangkap kebutuhan proteksionisme yang meluas di kalangan warga Belanda. Ia gencar mengkritik masuknya pekerja dari Polandia ke Belanda yang disebutnya mengancam periuk warga Belanda sendiri. Hasilnya, partainya yang pendatang baru secara mengejutkan bisa meraih suara 9 kursi di parlemen.Partai Kebebasan bentukan Wilders, dalam kampanye pemilu mengangkat isu-isu yang menyerempet wilayah ekstrim kanan, namun dalam iklim sekarang tidak diklasifikasikan sebagai ekstrim kanan. Partai ini memprogramkan dominasi kultur mayoritas, para pendatang harus menanggalkan kultur asalnya. Politik asimilasi ini menjadi vandel teratas. Dalam programnya, partai ini juga tidak mengakui persamaan hak. Hak mayoritas harus didahulukan dan dilindungi. Minoritas harus menyesuaikan diri dengan mayoritas. Disebutkan bahwa muslim tidak memiliki hak-hak dan kebebasan yang sama dengan kelompok lainnya dan harus menerima aturan main itu. Menurut konsep Partai Kebebasan ini, seorang warga Belanda keturunan yang beragama islam dan berbuat kejahatan di jalanan (istilah resmi partai straatterroristen, teroris jalanan, red), harus dicabut kewarganegaraannya dan dideportasi ke negara leluhurnya. Bukan dihukum menurut UU sebagaimana warga negara lainnya.Program lainnya adalah memperjuangkan penghapusan Pasal 1 Grondwet (Konstitusi) Belanda. Pasal yang menjamin antidiskriminasi itu dinilai terlalu umum menyangkut semua manusia dan harus diganti dengan norma-norma dan nilai-nilai Belanda berdasarkan tradisi Yahudi, Kristen dan humanisme. (Catatan: kaum homo menolak program ini).Partai ini juga menolak Uni Eropa menerima Turki. Semboyan populernya, "Turki masuk, Belanda keluar." Khusus untuk pekerja dari negara-negara Eropa Timur anggota UE, Belanda harus memberlakukan rezim tutup pintu (politik proteksionisme).Selain itu partai ini juga memprogramkan pelarangan imigrasi untuk pendatang non-Barat. Melarang dibangunnya masjid untuk masa lima tahun ke depan dan melarang absolut pemakaian burka dan jilbab di ruang publik. (es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads