Parpol Dituding Cuma Jadi Broker

Parpol Dituding Cuma Jadi Broker

- detikNews
Sabtu, 25 Nov 2006 00:05 WIB
Jakarta - Sistem politik kepartaian yang ada saat ini dinilai tidak memungkinkan untuk mencetak calon pemimpin yang handal. Ini terjadi karena partai politik lebih banyak menjadi broker bagi orang yang haus kekuasaan."Karena partai politik saat ini lebih cenderung menjadi broker dalam memunculkan pemimpin, seperti dalam penyelenggaraan Pilkada di berbagai daerah," kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Syaiful Mujani dalam diskusi di press room DPR, Jumat (24/11/2006).Mujani mencontohkan, akibat lebih banyaknya parpol menjadi broker, banyak calon yang didukung dalam pilkada dan menang berbalik menjadi kader partai lain. Padahal kader partai sendiri banyak yang antri tapi ditolak."Seperti Barnabas Suebu, dia menjadi Gubernur berangkat dari PDIP, tetapi baru beberapa saat dia kembali ke Golkar dan ditetapkan sebagai penasehat partai tersebut," ungkap Syaiful.Menanggapi hal itu, Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait membantah jika PDIP hanyalah partai broker. Menurutnya, merekrut orang-orang luar untuk menjadi pimpinan PDIP merupakan strategi partai."Barnabas Suaebu meskipun ada SK DPP Golkar yang mengangkatnya sebagai penasehat partai, dalam suatu pertemuan dia bertekad tidak akan melupakan PDIP," tegasnya.Demikian pula PDIP di Sulawesi Selatan yang memilih HZB Palaguna sebagai pimpinan partai meskipun sebelumnya dia kader Golkar, menurut Maruarar, ini strategi karena di wilayah tersebut PDIP tak pernah menang."Bukan berarti kita harus selalu mengangkat kader yang sudah antri lama. Buktinya di beberapa wilayah Sumatera yang merupakan basis PDIP, dengan mencalonkan kader-kader partai ternyata dalam Pilkada kalah semua," ujar Maruarar. Sementara itu, anggota FPG Agun Gunandjar Sudarsa mengatakan untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas, berani, dan jujur memang tergantung oleh partai politik. Karena partai politik menurut UU memang menjadi penentu posisi pemimpin. "Kalau ditanya apakah di Indonesia bisa lahir seorang pemimpin seperti Ahmadinejad dari Iran atau Evo Morales dari Bolivia, itu sangat bisa," cetus Agun.Syaratnya, lanjut Agun, parpol yang ada sekarang harus lebih dapat memahami aspirasi masyarakat. Jika itu yang dilakukan, pasti banyaknya massa yang kecewa dengan partai lain akan memilih partai tersebut. (yid/bal)


Berita Terkait