Litvinenko Diracun dengan Polonium
Jumat, 24 Nov 2006 23:05 WIB
Den Haag - Aleksander Litvinenko, mantan perwira dinas rahasia FSB dan pengkritik pemerintah Putin, ternyata diracun dengan polonium (Po). Sumber medis di University College London Hospital (UCLH) mengungkapkan Jumat, 24/11/2006, seperti disiarkan media Belanda petang ini. Litvinenko meninggal di rumah sakit tersebut Kamis kemarin, setelah menjalani perawatan akibat dugaan diracun. Kesehatannya dirasa memburuk seusai acara makan di restoran sushi di London bersama seorang Italia, 1/11/2006 lalu.Sebelumnya The Sunday Times dan Sky News melaporkan bahwa ginjal dan sumsum tulang belakang Litvinenko rusak berat akibat peracunan itu. Rambutnya juga rontok dan dia terus-menerus harus muntah.Kesimpulan penemuan polonium di tubuh Litvinenko itu sekaligus menepis spekulasi sebelumnya tentang racun arsenikum dan thallium, yang sama-sama tak berbau dan tak berasa.Polonium adalah zat yang mengandung radioaktif, dapat memicu kanker dan sangat mematikan. Kandungan radioaktif zat bernomor atom 84 ini ditemukan ilmuwan kimia Maria Salomee Skłodowska-Curie alias Marie Curie pada 1898. Dosis maksimal polonium yang bisa ditoleransi tubuh manusia adalah 0,03 µCi. Motif pembunuhan Litvinenko dan spekulasi tentang pelaku banyak dikaitkan dengan presiden Rusia Vladimir Putin, namun bukti-buktinya susah ditemukan. Modusnya yang menggunakan racun mengingatkan orang pada pembunuhan aktifis HAM Munir.
(es/es)











































