Astaga! 7% Penderita HIV/AIDS di NTT Berprofesi PNS
Jumat, 24 Nov 2006 12:55 WIB
Kupang - Mengejutkan! Tujuh persen penderita HIV/AIDS yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Tahun lalu penderita HIV/AIDS dari kalangan PNS diperkirakan baru mencapai 3 persen.Sementara total kasus HIV/AIDS yang berhasil diidentifikasi di 14 kabupaten/kota di NTT sampai dengan pekan ketiga November 2006 sebanyak 189 kasus, yang terdiri dari 112 kasus HIV dan 77 kasus AIDS."Dari jumlah tersebut, 67 penderita sudah meninggal dunia. Sisanya dalam pengawasan cukup ketat dari lembaga-lembaga penanggulangan HIV/AIDS dan pemerintah," kata anggota Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan DPRD NTT, Kristo Blasin dalam jumpa pers memperingati hari AIDS sedunia di Kupang, Jumat (24/11/2006).Menurut Blasin, para PNS yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS sebagian bekerja di intansi pemerintah provinsi dan lainnya di pemerintah kabupaten/kota."Identitas PNS tidak dapat disampaikan karena menyangkut nama baik keluarga mereka," katanya.Selain PNS, penderita HIV/AIDS dari kalangan pelajar dan mahasiswa mencapai 6 persen, sementara pekerja seks komersial 26 persen, selebihnya adalah buruh, tani dan nelayan.Sementara Kota Kupang memiliki jumlah penderita terbanyak, yakni 70 kasus, disusul Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Timor Leste sebanyak 48 kasus, Kabupaten Sikka 21 kasus, Ngada 12 kasus, dan kabupaten lainnya rata-rata di bawah 8 kasus."Dari 67 penderita yang sudah meninggal, 2 di antaranya balita yang menderita HIV/AIDS karena ditularkan orangtua mereka," kata Primus Lake, peneliti masalah HIV/AIDS di NTT.Budaya SifonMenurut Primus, secara umum penularan HIV/AIDS di NTT selain melalui hubungan seks bebas, juga disebabkan penggunaan jarum suntik narkoba dan obat-obatan terlarang.Namun di beberapa kabupaten seperti Belu, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan dan Kota Kupang, penyebaran HIV/AIDS lebih banyak melalui kebiasaan sifon (khitanan secara tradisional).Dalam tradisi ini, laki-laki dewasa yang baru dikhitan dapat bersetubuh dengan perempuan yang bukan istrinya. Bagi sebagian masyarakat Timor Barat, NTT, sifon diakui secara adat untuk mengetahui kejantanan seorang pria."Kebiasaan ini ternyata menjadi malapetaka, karena sifon terjadi pada saat luka bekas khitan belum sembuh," pungkas Primus.
(sss/sss)











































