Kasus Smack Down
Kak Seto: Anak Peniru Yang Baik
Jumat, 24 Nov 2006 09:10 WIB
Jakarta - Tayangan kekerasan di televisi dapat mempengaruhi perilaku dan perkembangan psikologi anak. Anak-anak adalah peniru yang terbaik di dunia."Anak-anak itu peniru yang terbaik, termasuk dari yang ada di televisi," kata Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, saat berbincang dengan detikcom, Jumat (24/11/2006).Seorang anak, tambah dia, jika merasa diakui akan apa yang dilakukannya, maka anak tersebut akan melakukannya lagi dan bahkan lebih. "Ada mekanisme punish and reward, biar kelihatan semakin gagah dan hebat," kata Kak Seto.Pria yang akrab dengan anak-anak ini berpendapat, lebih dari 80 hingga 90 persen tayangan televisi tidak berpihak kepada anak dan tidak konstruktif bagi perkembangan jiwa anak.Karena itu Kak Seto mengimbau para orang tua untuk membudayakan nonton televisi yang sehat, walaupun standar tiap orang tua berbeda untuk jumlah jam menonton televisi, hendaknya ada keseimbangan antara bermain, belajar dan nonton televisi.Mengenai kasus meninggalnya siswa SD di Bandung karena di-smack down kawan-kawannya, Kak Seto melalui Komnas Perlindungan Anak sudah melayangkan surat protes kepada Lativi dan mendesak kepada yang bersangkutan untuk menghentikan tayangan tersebut.Surat protes itu dikirimkan Selasa 21 November, dan mendapat jawaban Rabu 22 November. Kedua pihak rencananya akan bertemu pada Selasa 28 November untuk mendapat klarifikasi dari Lativi."Dulu sudah ada kasus Raju di Medan, jangan menunggu korban yang lebih banyak lagi," pungkas dia.Reza Ikhsan Fadillah (9), siswa kelas III SD Cingcin I Katapang, Bandung, meninggal dunia setelah di-smack down teman-temannya yang berusia jauh lebih tua dan hobi menonton tayangan Smack Down di televisi.
(nwk/fjr)











































