Leuser Tak Dapat Melihat Lagi

Leuser Tak Dapat Melihat Lagi

- detikNews
Jumat, 24 Nov 2006 05:52 WIB
Medan - Sebuah peluru menembus batok kepala Leuser. Serpihan peluru itu sebagian berpencar di sekitar bola mata kirinya, sehingga dia tidak mampu lagi melihat. Dengan kondisi seperti itu, dalam konservasi, Leuser dianggap sudah meninggal dunia. Leuser merupakan seekor orangutan jantan berusia enam tahun. Sudah sekitar satu tahun berada di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBTP), Jambi. Dia merupakan salah satu dari sekitar 80 ekor orangutan yang semula ditangkarkan di Sumatera Utara (Sumut), dan kemudian dikembalikan ke habitatnya di alam liar di TNBTP. Namun naas bagi Leuser, saat di alam liar, dia justru ditembak orang-orang tak bertanggung jawab. Dia tiba di Medan pada Kamis (23/11/2006) untuk melakukan pemeriksaan mata kanannya. Tidak diketahui pasti, kapan Leuser tertembak. Penduduk di kawasan TNBTP menemukannya dalam keadaan terluka pada Jumat 17 November dan menyerahkannya kepada petugas observasi orangutan TNBTP. Menurut Rahmat, dokter hewan pada Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP/Pusat Konservasi Orangutan Sumatera) yang berbasis di Medan, tembakan itu mengenai bola mata sebelah kiri, yang mengakibatkan kebutaan. Peluru hingga saat ini masih bersarang di bagian kepala Leuser. "Mata yang sebelah mata kanan masih harus diperiksa. Tetapi besar kemungkinan tidak bisa lagi digunakan untuk melihat," ujar Rahmad di kantornya, Jalan Wahid Hasyim Medan. Menurut Rahmat, dengan kondisi seperti ini, maka selanjutnya Leuser hanya akan dirawat dalam kandang di Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumut. Karena kebutaan yang dideritanya, mustahil dia mampu mencari makan sendiri. Dengan keadaan seperti itu, kondisi Leuser bisa dikatakan sudah sudah meninggal dunia dalam konservasi. Menurut Suheri, Direktur Pendidikan SOCP, penembakan terhadap Leuser merupakan kasus penembakan pertama yang dialami orangutan yang diliarkan kembali di TNBTP Jambi. Untuk mencegah kejadian serupa, pihaknya akan semakin menggalakkan sosialisasi ke masyarakat sekitar stasiun pengawasan, serta membuat zona penyangga sehingga orang utan yang dalam proses kembali ke habitat tidak masuk ke wilayah warga.Masih seringnya orangutan memasuki areal pemukiman maupun perladangan warga, dimungkinkan orangutan ini sebelumnya sudah terbiasa berinteraksi dengan manusia. (rul/fjr)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads