25 Siswa Tertipu UGMM

25 Siswa Tertipu UGMM

- detikNews
Kamis, 23 Nov 2006 17:25 WIB
Yogyakarta - Penipuan berkedok lembaga pendidikan muncul lagi di Kota Yogyakarta. Sebanyak 25 orang lulusan Lembaga Pendidikan Universal Generasi Muda Mandiri (LP-UGMM) Yogyakarta mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Ternyata ijazah yang mereka peroleh tidak laku untuk melamar kerja dan diduga palsu. Siswa yang telah lulus pendidikan dijanjikan akan memperoleh pekerjaan sesuai disiplin ilmu yang diperoleh di UGMM. Namun kenyataannya, mereka dicarikan pekerjaan sebagai sales promotion girl (SPG) dan pembantu rumah tangga (PRT).Tidak hanya itu, salah seorang karyawan lembaga pendidikan itu juga ikut mengadu. Sebab, dia juga dipekerjakan tidak seusai dengan yang dijanjikan. Dia juga harus kehilangan uang Rp 8,5 juta yang harus disetorkan saat bekerja pertama kali.Salah seorang korban, Dwi Istiana (20) kepada wartawan di kantor LBH Yogyakarta, di Jl Agus Salim, Kamis (23/11/2006) menuturkan dirinya mengambil program diploma satu jurusan Asisten Keperawatan. Setelah lulus pendidikan, dia melamar ke sebuah rumah sakit swasta. Beberapa hari kemudian Dwi dihubungi pihak rumah sakit, tapi dinyatakan ijazah dan sertifikat yang dimiliki tidak berlaku. "Tidak hanya saya, teman-teman seangkatan juga mengalami hal serupa. Banyak pekerjaan yang ditawarkan, tapi tak sesuai dengan pendidikan," ujar dia. Menurut Dwi, setelah setahun belajar dan praktek lapangan, siswa dinyatakan lulus dan mendapat ijazah dan sertifikat dari UGMM. Biaya pendidikan setahun Rp 5 juta dengan disertai janji beberapa RS swasta telah menjadi mitra kerja. "Saat menempuh pendidikan, kami juga melakukan praktek di Puskesmas. Tapi setelah lulus, ijazah ternyata tidak diakui," kata Dwi yang merupakan siswa lulusan ketiga.Hal yang sama juga dialami Setyaningsih (19), warga Bantul lulusan UGMM jurusan Asisten Keperawatan. Begitu lulus dari UGMM, dia berusaha menuntut UGMM yang menjanjikan akan menyalurkan para lulusannya. Tapi oleh pihak UGMM, dirinya dan teman-teman ditawari menjadi pembantu rumah tangga dan baby sitter. "Tidak hanya PRT atau baby sitter. Beberapa teman ada yang ditawari menjadi SPG di supermarket," katanya. Padahal untuk mememperoleh ijazah dan sertifikat dari UGMM setelah belajar selama setahun, para siswa harus membayar hingga Rp 5 juta. Para siswa itu mengaku tertarik masuk ke UGMM karena pihak pengelola menjanjikan akan menyalurkan lulusannya. Pihak UGMM, kata mereka, menyebut sejumlah rumah sakit yang sudah menjadi mitra UGMM. Sementara itu, Danang, salah seorang mantan karyawan yang ikut mengadu mengatakan dirinya baru beberapa bulan bekerja di UGMM sebagai karyawan, tapi dipecat pada 2 November 2006. Padahal Danang sudah menyetor uang sebesar Rp 8,5 juta ke lembaga itu.Dia bekerja di tempat itu setelah membaca iklan di koran ada lowongan untuk jadi karyawan Bank Perkreditan Rakyat. Setelah melamar dan dinyatakan diterima, dia diharuskan membayar uang sebesar Rp 8,5 juta. "Tapi setelah itu saya ditempatkan sebagai karyawan UGMM yang tugasnya mencari calon siswa," kata Danang.Sebelum dipecat, dirinya sebenarnya sudah ingin keluar karena tidak tahan dengan indikasi penipuan di lembaga itu. Gelar sarjana yang dipakai Direktur Utama UGMM Sarwo Edy, sering berubah-ubah. Saat menandatangani sertifikat, gelar yang dipakai Drs Sarwo Edy MM. Tapi di lain hal, gelar yang dipakai Dr Sarwo Edy MPH. "Saya sudah mengingatkan agar gelarnya yang asli saja jangan berubah-ubah. Tapi saya justru dipecat," ujar dia. (bgs/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads