Sekolah di Bandung Tempel Larangan 'Smack Down'
Kamis, 23 Nov 2006 15:49 WIB
Bandung - Acara 'Smack Down' yang ditayangkan sebuah stasiun televisi telah mengilhami anak-anak untuk menirukannya. Di sekolah-sekolah, Smack Down menjadi permainan. Reza Ikhsan Fadillah (9), siswa kelas III SD, tewas akibat permainan ini. Untuk menghindari korban lebih lanjut, ada sekolah yang menempel larangan bermain 'Smack Down'. Sekolah yang menempel larangan itu, salah satunya adalah SD Babakan Surabaya Selatan Kiaracondong, Bandung. Pengumuman yang ditulis di kertas putih berukuran A4 itu mengundang puluhan siswa untuk membacanya saat mulai ditempel, Rabu (22/11/2006) kemarin. "Jika melihat teman kalian melakukan aksi Smack Down, tolong laporkan ke guru. Jangan melakukan Smack Down di lingkungan sekolah maupun rumah, karena berbahaya", demikian tulisan tersebut. Selain tulisan itu, juga ada berita dari salah satu koran lokal yang ikut ditempelkan, yang isinya mengenai berita kematian Reza, siswa kelas III SD Cingcin I Katapang Kab Bandung.Ternyata inisiatif penempelan pengumuman itu bukan karena adanya berita kematian Reza. Menurut Kepala SD IV Babakan Surabaya, Sumadinata, penempelan pengumuman itu dilakukan setelah ada siswa kelas V SD Babakan Surabaya VII yang luka hingga harus dijahit lima jahitan setelah melakukan adegan Smack Down dengan teman-temannya."Ini atas inisiatif para guru, tapi saya tidak tahu siapa yang menempelkan, karena terus terang saya lagi rapat. Saya juga tidak tahu siapa nama siswa yang luka itu karena itu siswa SD VII," ujarnya kepada detikcom, Kamis (23/11/2006). Komplek sekolah berlantai dua itu terdiri dari tiga SD yaitu SD IV, SD VII, dan SD XIV. Meski demikian, kata dia, pihaknya mendukung penuh atas penempelan pengumuman itu. Sebab, lanjut dia, dengan adanya tayangan acara Smack Down di salah satu stasiun televisi swasta, siswa laki-laki seringkali mempraktekkan adegan itu dengan teman-temannya.Hal itu dibenarkan siswi kelas V SD Babakan Surabaya XIV Aghnia Nurul Ikhsani kepada detikcom. Menurut gadis cilik berambut panjang ini, teman-teman laki-lakinya sering melakukan Smack Down pada saat istirahat atau tidak ada guru di kelas."Saat pengumuman itu ditempelkan, saya sudah bilang sama temen-temen laki-laki, agar tidak Smack Down. Eh...mereka nggak mau dengar. Saya ancam saja buat laporin mereka," ujarnya yang mengaku tidak jadi melaporkan karena takut teman-temannya marah.
(ern/asy)











































