Dunia Internasional Kutuk Pembunuhan Menteri Libanon

Dunia Internasional Kutuk Pembunuhan Menteri Libanon

- detikNews
Rabu, 22 Nov 2006 08:59 WIB
Beirut - Dunia internasional mengutuk pembunuhan Menteri Perindustrian Libanon Pierre Gemayel, salah seorang figur terkemuka kelompok anti-Suriah. Pria yang baru berusia 34 tahun itu tewas akibat ditembak di pinggiran Beirut pada Selasa 21 November kemarin.Presiden AS George W Bush mengecam pembunuhan itu dan menyerukan adanya investigasi dan tindakan segera oleh PBB. Demikian seperti diberitakan kantor berita AFP, Rabu (22/11/2006)."Hari ini kita kembali melihat wajah keji mereka yang membenci kebebasan," kata Bush di Hawaii. "Kami mengecam keras pembunuhan Pierre Gemayel di Libanon," imbuhnya.Sekjen PBB Kofi Annan juga mengutuk kejadian yang disebutnya sebagai "pembunuhan berdarah dingin" itu. Pemimpin badan dunia itu menyerukan semua pihak untuk mempertahankan kesatuan nasional. Kecaman juga datang dari pemerintah Rusia, Inggris, Jerman, Italia, Arab Saudi, Mesir, Iran, Spanyol, Norwegia dan lainnya.Sejumlah pihak menuding Suriah berada di balik pembunuhan politisi terpandang Libanon itu. Duta Besar AS untuk PBB John Bolton misalnya, terang-terangan menyebut Suriah mendalangi pembunuhan itu. Bolton pun mengungkit serangkaian pembunuhan politikus anti-Suriah di Libanon, termasuk mantan perdana menteri Rafiq Hariri pada Februari 2005 lalu.Putra mendiang Hariri, Saad, juga menuding Suriah berada di belakang kematian Gemayel. "Kami yakin tangan Suriah ada di balik peristiwa ini," cetus Saad.Namun pemerintah Suriah dengan tegas membantah tudingan tersebut. "Suriah marah dengan perbuatan mengerikan ini. Di saat komunitas internasional sedang mengupayakan hubungan yang lebih baik dengan Suriah, tindakan itu hanya untuk merusak situasi," demikian statemen Kedutaan Besar Suriah di Washington, AS.Gemayel berasal dari keluarga anti-Suriah. Ayahnya adalah seorang pemimpin anti-Suriah dan mantan presiden, Amin Gemayel. Seorang sepupunya, Bashir Gemayel, juga terbunuh dalam perang sipil di Libanon tahun 1982. (ita/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads