Jepret Hawk Nyungsep, Kamera Wartawan Dirampas Paskhas
Selasa, 21 Nov 2006 16:06 WIB
Pekanbaru - Sikap arogan aparat terhadap jurnalis kembali terjadi. Baru saja mengeluarkan kamera untuk menjepret pesawat Hawk yang nyungsep, wartawan mendapat intimidasi dari anggota Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU Pekanbaru, Riau.Anggota Paskhas itu merampas kamera wartawan lokal, dan sempat terjadi tarik-menarik kamera milik televisi swasta nasional ANTV.Kala itu para jurnalis sedang meliput pesawat tempur TNI AU Pekanbaru jenis Hawk 2000 yang nyungsep di luar ujung landasan Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Selasa (21/11/2006).Rombongan wartawan meninjau langsung tempat pesawat naas itu nyungsep di kawasan Simpang Tiga, Pekanbaru. Baik wartawan maupun warga memang tidak bisa melihat secara dekat pesawat tersebut karena memang dibatasi pagar besi setingi 2 meter. Pesawat itu berada di jalur penerbangan di luar landasan pacu.Namun baik di luar maupun di dalam pagar dijaga aparat. Setidaknya 3 truk pengangkut Paskhas diterjunkan di lokasi. Saat wartawan akan mengabadikan pesawat dari luar pagar, para anggota Paskhas berteriak-teriak meminta wartawan tidak mengeluarkan kameranya."Di sini dilarang mengambil gambar atau foto. Ini kawasan militer. Kalau tidak ingin kepala bolong, jangan coba-coba keluarkan kamera," hardik anggota Paskhas kepada wartawan.Apes bagi Said Mufit, wartawan foto harian Riau Pos, yang akan mengeluarkan kameranya dari dalam tas rangselnya, langsung dirampas anggota Paskhas.Perampasan ini terjadi begitu cepat tanpa permisi dengan pemiliknya. Said sempat protes atas tindakan itu. Tapi ada daya Said melawan anggota Paskhas yang sedang beringas itu."Tas saya dirampas begitu saja. Padahal saya sendiri belum sempat mengambil foto apapun," keluh Said saat berbincang dengan detikcom.Setelah merampas kamera Said, anggota Paskhas tersebut memberikan kamera merek Canon seri 20 D bersama lensanya yang seharga Rp 45 juta itu ke rekannya yang berada di dalam pagar."Saya protes minta dikembalikan. Lantas anggota TNI AU itu bilang, urusan di kantor saja. Kalau mas mau ambil kamera ini, silakan ke markas saja," ketus Said menirukan ucapan prajurit tersebut.Tak cuma Said yang kena getahnya. Asnil yang juga wartawan media lokal dirampas kemera poketnya dan handycam. Namun tak lama dikembalikan lagi. "Tapi setelah saya lihat, semua foto yang sempat saya ambil semuanya dihapus. Memory card saya kosong," kesal Asnil.Jengkel dengan sikap arogansi anggota Paskhas tersebut, wartawan akhirnya bubar dari lokasi kejadian. Wartawan ramai-ramai akan mengajukan protes ke Kapentak Mayor TNI Dede S. Tapi sayang, Kapentak tidak muncul di ruangannya. Dia sempat kepergok wartawan berada di ruangan, namun dia kemudian bergegas pergi lewat pintu belakang.Wartawan lantas mencoba untuk bertemu Komandan Pangkalan TNI AU Pekanbaru, Kolonel Pnb Bonar Hutagaol yang selama ini juga dikenal sangat dekat dengan wartawan. Nasib sial, sang komandan tengah berada di Bali.Sekitar pukul 14.45 WIB, seorang staf Kapentak bernama Serka Slamet dengan lugunya mengaku diperintah Mayor Dede meminta maaf pada wartawan. Dia memberikan tas ransel warna hitam berisi kamera milik Said kepada wartawan. Ketika diterima, di dalam kamera itu tidak ada lagi memory card-nya."Saya tidak mau terima kondisi kamera saya tanpa memory card. Tolong kembalikan juga memory-nya," tagih Said.Serka Slamet pun mengaku tidak tahu di mana memory card kamera tersebut. "Waduh mas, saya cuma diperintahkan mengembalikan ini saja. Soal yang lain saya tidak tahu," ujarnya.Said bersikukuh menginginkan kameranya dalam kondisi utuh. Akhirnya wartawan meninggalkan ruangan Kapentak. Dan kamera Said masih berada di pihak TNI AU.
(cha/sss)











































