Banjir Lahar, Penambangan Pasir Kali Gendol Ditutup
Selasa, 21 Nov 2006 13:25 WIB
Sleman - Setelah banjir lahar di Kali Gendol, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY Senin 20 November 2006 malam kemarin, penambangan pasir ditutup. Dikhawatirkan bila terjadi hujan deras lagi, jutaan meter kubik material Gunung Merapi akan turun ke sungai.Hal itu dikatakan Pelaksana Harian Kepala Bidang Penangulangan Bencana Alam Pemerintah Kabupaten Sleman, Urip Bahagia di Cangkringan, Sleman, Selasa (21/11/2006)."Kami meminta warga yang ada di sekiar aliran Kali Gendol untuk waspada. Penambang pasir yang ada di atas, terutama yang dekat dengan dam sungai ditutup," katanya.Dia mengatakan, penutupan kegiatan penambangan di Kali Gendol terutama di Dam 5 hingga Dam 7 karena sudah penuh dengan timbunan material pasir. Selain itu, saat terjadi banjir lahar, material yang terbawa air di Kali Gendol sudah mencapai dekat Dam 5 di Dusun Kopeng Desa Kepuharjo."Bila tidak ditutup akan berbahaya. Saat ini kami terus memantau setiap kali terjadi hujan deras dalam waktu lama di kawasan puncak Merapi," katanya.Menurut dia, pihaknya juga sudah meminta warga yang tinggal di sepanjang aliran Kali Gendol dan Opak waspada bila terjadi hujan deras. Sedangkan truk pasir yang akan mengambil pasir di sungai saat ini juga sudah dilarang.Untuk mengantisipasi terjadi banjir, kata dia, saat ini di aliran Kali Opak dan Gendol terpasang alat peringatan dini. Alat itu berupa penakar dan pengukur yang dihubungkan dengan sensor. Bila terjadi banjir lahar, sensor yang dipasang melintang di tengah aliran sungai akan bekerja otomatis."Bila kabel putus, sirene akan berbunyi yang memberikan tanda telah terjadi banjir. Tapi alat itu masih dicoba dan dievaluasi lagi apakah bisa berfungsi dengan baik atau tidak," katanya.Kepala Seksi Merapi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo mengatakan, hujan deras mengakibatkan kubah lava baru di puncak yang belum stabil itu runtuh. Hujan juga mengakibatkan material Merapi di hulu Kali Gendol dan Kuning terbawa air ke bawah hingga terjadi banjir lahar. "Karena kubah runtuh, awan panas muncul lagi," katanya.Menurut dia, saat ini status Gunung Merapi masih waspada. Guguran lava pijar masih terus terjadi sejak Senin sore hingga Selasa pagi dengan jarak sekitar 1 km. Luncuran awan panas yang terjadi Senin malam mencapai lebih dari 10 kali. Hanya saja tidak dapat diamati secara visual karena cuaca berkabut tebal. Luncuran awan panas terbesar terjadi dua kali pada pukul 19.27 dan 19.30 WIB.
(bgs/sss)











































