Syafii : Bush Banyak Bohongnya

Syafii : Bush Banyak Bohongnya

- detikNews
Minggu, 19 Nov 2006 17:02 WIB
Yogyakarta - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr H.A. Syafii Ma'arif mengingatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar jangan terlalu percaya sepenuhnya dengan omongan Presiden Amerika Serikat (AS) George W. Bush. Pasalnya janji-janji yang pernah diucapkannya banyak bohongnya.Oleh karena ini selama pertemuan di Bogor besok, SBY sebaiknya ngobrol dengan Bush yang ringan-ringan saja. Namun SBY juga harus berani menjelaskan kondisi riil rakyat Indonesia terutama petani dan nelayan yang masih miskin dan menderita sejak zaman penjajahan hingga sekarang."Ngobrol yang ringan-ringan saja tak perlu serius-serius dengan logika-logika yang mudah dicerna," kata Syafii kepada wartawan di rumahnya di Nogotirto Gamping, Sleman, Minggu (19/11/2006).Dia mengatakan berdasarkan pengalaman saat bertemu dengan Bush di Bali tahun 2003 lalu, semua yang dijanjikan Bush banyak bohongnya dan berbeda dengan janji yang pernah diucapkannya. Dia mencontohkan akan akan membantu pendidikan di Indonesia US$ 150 juta tanpa intervensi. Namun kenyataannya, setelah bantuan diberikan, intervensi tetap saja ada. "Tidak hanya itu, soal Palestina dia juga berjanji akan mendukung kemerdekaan negara itu pada 2005, tetapi kenyataannya juga hanya bohong," katanya.Dia mengatakan jika SBY bisa meyakinkan Bush mengenai kondisi Indonesia sebenarnya yang masih miskin sehingga Bush mau membantu tanpa ada intevensi apapun, maka pertemuan antara SBY dan Bush ada manfaatkanya.Tapi jika sekadar bertemu dan hanya say hello, akan menjadi percuma karena tidak lebih dari sekadar ritual antara dua kepala negara. "Saya harap SBY berani ngomong apa adanya. Toh SBY adalah seorang jenderal dan menantu dari seorang jenderal. SBY juga seorang presiden dari sebuah negara yang berdaulat," katanya.Menurut dia, jika Bush mengajak bicara soal terorisme, SBY harus berani mengatakan bukan hanya AS saja yang menjadi korban tetapi Indonesia juga korban dari terorisme. Terorisme itu, disebabkan oleh kesenjangan yang semakin lebar."Kalau kesenjangan bisa diperpendek, rakyat tidak miskin lagi dan pendidikan lebih ditingkatkan dan pemerintah Amerika mau bersikap lebih adil, terorisme bisa ditekan," kata guru besar Universitas Negeri Yoyakarta (UNY) itu. (mar/mar)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads