Wartawan Liput Kesurupan Bentrok dengan Satpam Kampus
Jumat, 17 Nov 2006 19:53 WIB
Yogyakarta - Kesal dihalang-halangi dan dilarang masuk, belasan wartawan elektronik dan media cetak yang meliput peristiwa kesurupan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) dan Sekolah Tinggi Teknologi Informasi (STTI) Respati Yogyakarta bentrok dengan 10 Satpam kampus. Dorong-dorongan dan adu mulut tak terhindarkan.Kejadian bermula ketika seorang mahasiswi yang hendak pulang pada pukul 19.15 WIB, Jumat (17/11/2006), tiba-tiba jatuh lunglai dan kesurupan di luar halaman kampus. Wartawan yang menunggu di sekitar gerbang kampus pun memanfaatkan kesempatan untuk mengambil gambar. Ketika beberapa satpam membawa mahasiswi tersebut masuk ke dalam kampus, kesempatan itu tidak disia-siakan wartawan untuk ikut masuk. Belasan wartawan yang sudah menunggu sejak sore itu berhasil masuk ke halaman kampus.Namun belum lagi wartawan mengambil gambar dan mewawancarai korban, sekitar 10 satpam yang berpakaian preman mengusir sambil mendorong-dorong wartawan. Tak terima diperlakukan seperti itu, belasan wartawan balas mendorong.Adu mulut pun terjadi selama lebih 5 menit. "Silakan keluar, dilarang mengambil gambar," ujar seorang satpam."Apa dasar hukumnya pak? Kami berhak meliput, tidak boleh dihalang-halangi," sahut seorang wartawan dari media elektronik.Seorang ibu yang menyatakan wakil dari para orangtua mahasiswi yang kesurupan ikut meminta wartawan agar keluar dari kampus. "Tolong ya, kejadian ini jangan diberitakan," pintanya.Ketegangan akhirnya mereda setelah seorang karyawan yang mewakili pihak kampus bersedia diwawancara dan memberikan keterangan. Belasan wartawan kemudian mengalah, mundur ke luar kampus.Dalam keterangannya, karyawan yang minta namanya tidak disebutkan itu menjelaskan, memang benar ada kesurupan di kampus STIKES dan STTI Respati. Namun seolah menutup-nutupi, dia menyatakan jumlah mahasiswi yang kesurupan hanya 3 orang.Dia juga membantah kalau kesurupan itu terjadi sejak empat hari yang lalu. Usai memberi keterangan karyawan tersebut bergegas masuk. Para wartawan pun memilih pulang. "Percuma untuk menunggu mereka nggak mau diliput," cetus seorang wartawan media cetak.
(bal/bal)











































