ICW: BOS 2006 Gagal Karena Dikorup Birokrat Pendidikan
Jumat, 17 Nov 2006 17:10 WIB
Jakarta - Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 2006 dinilai gagal karena dua sebab. Pertama, dikorup birokrat pendidikan dan kedua, tidak cukup membiayai operasional sekolah.Hal ini disampaikan peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Hendri dalam jumpa pers di Kantor ICW, Jalan Kalibata timur, Jakarta Selatan, Jumat (17/11/2006).Akibat dua hal tersebut, ICW menemukan adanya pungutan rata-rata Rp 98.500 untuk uang LKS & paket sekolah dan Rp 70.615 untuk uang pendaftaran masuk sekolah di 10 kota tempat penelitiannya. Padahal pungutan tersebut berdasarkan juklak BOS tidak diperbolehkan lagi. "Kesimpulan kami, program BOS gagal. Orang tua masih mengeluarkan banyak biaya untuk sekolah anaknya," kata Manajer Monitoring Pelayanan Publik ICW Ade Irawan di tempat yang sama. 10 Kota yang diteliti adalah Jakarta, Tangerang, Garut, Padang, Banjarmasin, Lombok Tengah, Sumba Barat, Makassar, Manado dan Buton. Riset dilakukan antara Maret 2006 sampai awal November 2006.Setali tiga uang, BOS untuk buku juga dinilai ICW telah gagal. Hasil riset menunjukkan baru sedikit siswa yang mendapat buku gratis. "Sejak Juli 2006, 84,55% dari 8.228 responden mengaku tidak pernah mendapat buku gratis," ungkap Febri.Untuk itu, terkait masalah BOS, ICW mengajukan beberapa rekomendasi antara lain menambah alokasi dana BOS agar memenuhi kebutuhan riil sekolah dan membuka kesempatan lebih luas kepada orang tua untuk berpartisipasi dalam pengelolaan keuangan sekolah yang selama ini tertutup.
(aba/asy)











































