Pengamat: JK Jadi Wapres Sama dengan Pelihara Anak Macan
Jumat, 17 Nov 2006 17:03 WIB
Jakarta - SBY-JK semakin terlihat akur beberapa waktu terakhir ini. Namun bagi pengamat, keberadaan JK sebagai wapres tetap menjadi ancaman bagi SBY. Memposisikan JK yang juga bos partai terbesar sebagai mitra sama dengan memelihara anak macan.Demikian dilontarkan pengamat politik FISIP UI Maswadi Rauf dalam diskusi bertajuk 'Siapa Parpol Pendukung Pemerintah Sebenarnya?', di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (17/11/2006).Dia berpendapat, sebagai partai terbesar dan pemenang pemilu di parlemen, Golkar tidak akan puas berada di posisi kedua di bawah SBY."Menurut saya itu sama saja dengan membesarkan anak macan," ucap Maswadi.Selain itu, untuk menghindari terjadinya konflik di antara keduanya jika nantinya JK maju dalam Pilpres 2009, Golkar dan JK disarankan mengumumkan kepastian pencalonan sebagai capres setidaknya 1,5 tahun sebelum pelaksanaan pilpres."Hal ini penting agar jalannya pemerintahan bisa lebih baik, dan tidak seperti pada pemerintahan Mega. Jika ingin menjadi presiden, jangan lewat dari 2007 keputusannya," cetusnya.Menanggapi lontaran Maswadi tersebut, Wasekjen DPP Golkar Priyo Budi Santoso berpendapat duet SBY-JK masih layak dipertahankan sampai 2009. Bahkan jika kinerja pasangan ini semakin membaik, bukan tidak mungkin duet ini akan dilanjutkan. "Namun, kami mengakui tahun 2008 itu masa-masa sulit. Bagi partai kami, karena banyak pengurus teras yang akan tergoda," terangnya.Sementara Sekretaris Fraksi Partai Demokrat Sutan Bhatoegana membantah jika SBY tidak tegas. Menurutnya, sikap SBY yang terkesan peragu tersebut didasarkan pada sikap hati-hati."Ndak benar itu ragu-ragu dan penakut. SBY itu orangnya sangat hati-hati, karena itu dia jadi presiden," belanya.Militer yang Tak TegasMaswadi juga berpendapat, ketidaktegasan SBY dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsa dinilai sebagai bentuk ketidakmampuan SBY menyerap jiwa-jiwa militer, meskipun dia berlatar belakang seorang militer."Jiwa militernya tidak berbekas. Jadi kalau kita lihat dia sekarang seperti sipil. Ragu bertindak. Harusnya sebagai militer disiplinnya tinggi dan tegas," nilainya.Pria bergelar profesor ilmu politik ini menyarankan, seharusnya SBY bisa mengambil sikap tegas, karena sistem pemerintahan yang dianut saat ini adalah presidensiil.
(fjr/nrl)











































