Perwira Intelijen Belanda Menyiksa Puluhan Tawanan Irak
Jumat, 17 Nov 2006 15:55 WIB
Den Haag - Politik Den Haag gempar. Para perwira militer Belanda menyiksa puluhan tawanan Irak di Al-Muthanna. Parlemen mendesak segera digelar hak angket.Modus penyiksaan yang dilakukan mirip dengan yang dilakukan militer AS di Abu Ghraib dan Guantanamo. Para tawanan matanya ditutup dengan kacamata pelindung debu, sehingga tidak bisa melihat apa-apa. Lalu secara bergantian kacamata tersebut dicopot-pasang dan mata para tawanan disorot lampu berkekuatan tinggi.Mereka juga secara terus-menerus diguyur air, agar tidak bisa tidur. Sementara telinga mereka diganggu suara bernada tinggi. Seluruh proses penyiksaan itu berlangsung di bawah apa yang disebut 'interogasi taktis disertai kekerasan' dan para tawanan tidak didampingi penasehat hukum. Pelakunya tim perwira intelijen dari Dinas Intelijen dan Keamanan Militer, koran De Volkskrant mengungkapkan, Jumat 17/11/2006.Laporan De Volkskrant tersebut membuat gempar politik Belanda, yang secara tradisional mengerek tinggi HAM dan menentang segala bentuk penyiksaan. Peristiwanya sendiri terjadi pada November 2003 lalu. Yang menjadi masalah, parlemen tidak dilapori dan kasusnya terkesan sengaja ditutupi rapi jali. Diungkapkan De Volkskrant, bahwa Kastaf Pertahanan Letnan Admiral (pangkat tertinggi dalam Marinir Belanda, sejajar dengan jenderal Angkatan Darat, red) Luuk Kroon, meskipun sudah dilapori namun tidak meneruskan kasusnya ke pengadilan alias dipetieskan. Pihak Departemen Pertahanan Belanda sendiri mengakui telah terjadi peristiwa itu. "Telah terjadi beberapa hal yang tidak sesuai dalam instruksi," Direktur Penerangan Dephan Joop Veen menjelaskan, namun dia tidak ingat pasti apakah kasus itu sudah dilaporankan ke Menteri Pertahanan.Fraksi Groenlinks (Kiri Hijau) menyatakan kaget dan mempertanyakan apakah Belanda sudah terseret jauh ke dalam cara-cara perang ala AS, di mana penyiksaan dipakai sebagai alat. Ketua fraksi Groenlinks Femke Halsema mendesak digelar hak angket untuk menyelidiki 'Skandal HAM Al-Muthanna' tersebut dan menyerukan agar para anggota parlemen kembali dari masa reses pemilu.Pemilu Belanda akan digelar 22/11/2006 pekan depan, setelah kabinet Balkenende II jatuh pada 30/6/2006, menyusul skandal kewarganegaraan anggota parlemen Ayyaan Hirsi Ali.
(es/es)











































