Mahasiswa & Ormas di Solo Juga Demo Tolak Bush
Kamis, 16 Nov 2006 16:42 WIB
Solo - Aksi menolak kehadiran Presiden AS George W Bush terus digelar di seantero Indonesia. Di Solo, Jawa Tengah terdapat dua aksi yang menyatakan penolakan. Jika mahasiswa menggelar aksi turun jalan, beberapa tokoh perwakilan sejumlah ormas mendatangi DPRD.Puluhan anggota Forum BEM UNS menggelar aksi di boulevard UNS, Kamis (16/11/2006) siang. Selain menyerukan penolakan terhadap kehadiran Bush di Indonesia, para mahasiswa tersebut juga menggalang pengumpulan tanda tangan dari mahasiswa lain yang tidak berdemo untuk menolak Bush.Dalam penilaian mahasiswa, kunjungan Bush ke Indonesia merupakan upaya AS mempengaruhi dan mengelabui Indonesia. Agenda pertemuan untuk menjalin kerja sama bidang pendidikan, kesehatan, dan antikorupsi dinilai hanya kebohongan.Tokoh Ormas Islam ke DPRDSementara itu belasan orang yang mengaku mewakili sejumlah organisasi dan lembaga muslim di Solo, mendatangi gedung DPRD Kota Surakarta. Mereka yang mengaku bergabung dalam Forum Umat Islam Surakarta (FUIS) itu menemui anggota dewan untuk menyampaikan sikap penolakannya terhadap kedatangan Bush.Mereka adalah perwakilan dari MM, PKS, PPP, HTI, KAMMI, Ponpes Al-Mukmin Ngruki, MTA, dan lain-lainnya. Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di hadapan anggota dewan, FUIS juga menolak kedatangan Bush ke Indonesia dan juga mendesak pemerintah membatalkan rencana kedatangan Bush tersebut.Ketua PKS Solo yang juga bertindak selaku Humas FUIS, Sugeng Riyanto, menyatakan kedatangan rombongan tersebut ke DPRD adalah guna mencari dukungan untuk menolak kedatangan Bush.Rupanya kedatangannya tidak sia-sia. Setidaknya lima anggota dewan yang menerima mereka langsung membubuhkan tanda tangan dukungan. Kelima anggota dewan itu adalah Purwanto (FPG), M Rodhi (FPKS), Willy Tandyo (FPDIP), Syamsudin Dahlan (FPAN), Maryuwono (FPDIP).Namun buru-buru para anggota dewan ini segera memberi klarifikasi. "Ini sikap pribadi, bukan bukan keputusan lembaga DPRD. Keputusan DPRD harus melalui rapat paripurna," ujar Purwanto.
(mbr/sss)











































