Demo Ribuan Buruh Bandung Tuntut UMK Diwarnai Kericuhan
Selasa, 14 Nov 2006 16:04 WIB
Bandung -
Aksi demo ribuan buruh tekstil di Kantor Pemkab Bandung, Jabar, sempat diwarnai kericuhan. Mereka menuntut penetapan upah minimum kabupaten (UMK) 2007 sebesar Rp 924 ribu dan menolak rekomendasi Dewan Pengupahan Kabupaten sebesar Rp 820 ribu. Para pengunjuk rasa berasal dari kantung-kantung pabrik tekstil yang tersebar di lima kecamatan di Kab Bandung yaitu Dayeuhkolot, Baleendah, Batujajar, Katapang, dan Batujajar. Mereka melakukan konvoi dari tempat kerjanya masing-masing menuju Kantor Pemkab Bandung di Soreang, Kab Bandung, Selasa (14/11/2006). Sebelum tiba di Kantor Pemkab, massa melakukan sweeping ke pabrik-pabrik yang dilewati dengan menggedor-gedor pintu pabrik dan meminta para karyawan turut bergabung untuk unjuk rasa. Namun aksi tersebut tidak berlangsung lama, karena aparat kepolisian langsung mengamankan pabrik-pabrik. Setelah itu massa melakukan konvoi dengan ratusan kendaraan beroda empat dan dua di sepanjang jalan sambil membacakan orasi yang isinya mengkritik kebijakan dewan pengupahan daerah dan pemda yang dinilai tidak memperhatikan nasib buruh. Massa sampai di Pemkab sekitar pukul 10.30 WIB. Mereka berkumpul di depan pintu gerbang komplek Pemkab Bandung sambil terus melakukan orasi. Ratusan polisi berjaga-jaga di dalam halaman kantor. Pada saat azan dluhur, aksi sempat terhenti. Beberapa saat kemudian mereka melakukan aksi kembali dan mendesak untuk bertemu dengan Bupati Obar Sobarna. Namun, keinginan mereka tidak terkabul. Akhirnya, perwakilan buruh bertemu dengan DPRD Kab Bandung. Saat perwakilan berada di dalam, terjadi aksi dorong antara massa dan polisi. Bahkan sempat pula terjadi aksi pukul memukul. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sempat dari buruh ada yang diamankan, namun kemudian dibebaskan lagi. Meski sempat diwarnai kericuhan, namun massa membubarkan diri secara tertib sekitar pukul 13.30 WIB setelah disepakati untuk menunggu hingga tiga hari. "Jika tidak dipenuhi, kami akan kembali melakukan aksi demo yang lebih besar lagi," ujar Sidik, salah satu buruh.
(ern/nrl)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































