Wacik Minta Sejarawan Catat Pasang Surut SBY-JK
Selasa, 14 Nov 2006 13:11 WIB
Jakarta - Pasang surut hubungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) baru-baru ini layak dicatat sebagai salah satu fragmen sejarah bangsa. Para sejarawan harus mencatatnya, agar tak terjadi bias di masa mendatang. "Sejarah bukan hanya zaman Belanda dan bahuela. Tapi juga zaman sekarang. Warnailah sejarah dengan hal-hal seperti ini," kata Menbudpar Jero Wacik dalam sambutan pembukaan Konferensi Sejarah Nasional VII di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (14/11/2006). Menurut Wacik, ritme hubungan antara Presiden dan Wapres sebagai Dwitunggal tak ubahnya pasangan suami-istri. Sebagaimana halnya dalam rumah tangga, adalah hal yang wajar apabila sesekali terjadi cekcok. Saat terjadi cekcok, bisa jadi ada pihak tertentu yang senang dan berharap pasangan SBY-JK bercerai. Pada saat bersamaan, ada juga yang sedih dan berinisiatif mengambil peran sebagai penasihat perkawinan yang mengusahakan rujuknya pasangan tersebut. Tak ketinggalan fase 'pacaran' menjelang Pemilihan Presiden 2004, juga merupakan bagian dari sejarah. Termasuk alasan pendorong SBY 'naksir' pada JK dan sebaliknya, yang sejauh ini belum banyak diketahui banyak orang. "Nah, ini musti ada catatan-catatan sejarah. Tapi saya minta, semua demi kesejahteraan rakyat, kalau sejarah itu dikeluarkan untuk membuat kita bertempur dan berkelahi, lebih baik jangan diterbitkan," sambungnya. Menanggapai pernyataan Wacik di atas, JK langsung melancarkan "jurus balasan". Setibanya di podium ketika mendapat giliran menyampaikan sambutannya, Wapres dengan gaya informalnya yang khas langsung memberikan tanggapannya. "Pak Wacik ini mulai ngarang sejarah. Yang nggak ada apa-apa, dibilang ada apa-apa," ujar JK sambil tertawa kecil.
(lh/nrl)











































