Paripurna DPR Ributkan Rencana Kedatangan Bush
Senin, 13 Nov 2006 11:56 WIB
Jakarta - Rencana kedatangan Presiden AS George W Bush juga membuat suasana sidang paripurna DPR 'meriah'. Interupsi dan celetukan pun ramai bermunculan.Suasana ramai itu terjadi ketika Ketua DPR Agung Laksono menyampaikan pidato sambutan dalam sidang paripurna pembukaan masa persidangan kedua di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (13/11/2006).Dalam salah satu bagian pidatonya Agung mengatakan, DPR meminta pemerintah bersikap proporsional dalam menyambut kedatangan Bush ke Indonesia. Bush harus disambut sebagaimana kedatangan kepala negara lainnya."Hendaknya penyambutan dilakukan secara proporsional, sesuai protap penerimaan tamu negara tanpa mengurangi kewaspadaan," kata Agung.DPR juga mengharapkan pertemuan SBY dengan Bush melihat secara objektif berbagai kebijakan AS. Banyak kebijakan AS yang jauh dari rasa keadilan dan kemanusiaan.Belum selesai Agung berpidato, tiba-tiba anggota FPKS Fahri Hamzah melakukan interupsi. Dia meminta DPR mengambil sikap yang lebih tegas, yakni menolak kedatangan Bush. Menurutnya, tangan Bush berlumuran darah ratusan ribu nyawa akibat policy yang salah. "Karena itu sebelum ditolak sebaiknya DPR RI menyatakannya sebagai penjahat perang (war criminal)," kata Fahri.Kedua, Bush justru merusak hubungan kita dengan bangsa Amerika dan juga harmoni global, karena itu dia harus ditolak juga karena keinginan baru rakyat Amerika ditunjukkan oleh kemenangan Demokrat.Interupsi Fahri ini spontan membuat suasana sidang menjadi riuh. "Setujuuuu! Voting...voting!" teriak sejumlah anggota dewan.Menyikapi hal ini, Agung hanya meminta diberikan waktu untuk menyelesaikan pidatonya. Setelah suasana mereda, Agung pun kembali melanjutkan pidatonya.Namun saat Agung selesai membacakan pidatonya, kini giliran Ketua Fraksi Partai Damai Sejahtera (FPDS) Contan Ponggawa melakukan interupsi. Dia mengusulkan hal yang sebailknya."Kedatangan Presiden AS harus disambut dengan baik, sebagai pribadi maupun kepala negara. Sebab Indonesia dan AS sudah menjalin hubungan diplomatik selama ini," kata Contan.Suasana riuh kembali terjadi. Sejumlah anggota dewan sempat saling melontarkan celetukan. Melihat situasi seperti ini, Ketua DPR Agung Laksono memilih untuk cepat-cepat menutup sidang. Tok...tok...sidang pun selesai.
(djo/nrl)











































