Wapres Cari Dana Segar untuk DI
Minggu, 12 Nov 2006 16:03 WIB
Bandung - Wapres Jusuf Kalla berjanji akan mencarikan dana segar dari bank pemerintah untuk modal awal PT Dirgantara Indonesia (DI) dalam memproduksi pesawat Cassa NC 212 yang merupakan kerjasama dengan European Aircraft Defense System (EADS). Demikian disampaikan Humas PT DI Rakhendi Triatna melalui telepon kepada detikcom. Dia mengungkapkan hal itu disampaikan JK saat mengunjungi komplek perusahaan PT DI di Jalan Pajajaran Bandung, Minggu (12/11/2006) pagi. Menurut Rakhendi, rombongan Wapres datang pukul 08.15 WIB. Turut dalam rombongan Menneg BUMN Sugiharto dan Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta. Sementara dari pihak perusahaan hadir Wakil Dirut PT DI M Muhayan serta KSAU Jenderal Herman Prayitno selaku komisarius utama. "Pak Wapres mendengarkan presentasi direksi serta mengunjungi aerostructure dan aircraft PT DI," ujar Rakhendi. Dia mengaku kedatangan wapres mendadak, baru diketahui tadi malam sehingga tidak mengundang wartawan. Menurutnya, kedatangan Wapres untuk mendukung perusahaan dirgantara tersebut dalam menjalani bisnisnya. Salah satunya adalah mendukung penuh penjajakan yang dilakukan PT DI dengan EADS dalam produksi NC 212. "Saat ini penjajakan sudah memasuki tahap final. Rencananya bulan ini akan ditandatangani kerjasamanya," kata dia. Pola kerjasama yang akan dijalani adalah penyediaan komponen hingga perakitan pesawat akan dilakukan di PT DI. "Semacam " katanya. Wapres, katanya, menjanjikan akan mencarikan modal awal bagi produksi pesawat Cassa tersebut dari bank milik pemerintah. "Saya belum tahu berapa anggaran yang dibutuhkan, karena sampai saat ini masih penjajakan," ujar Rakhendi saat ditanya berapa dana yang dibutuhkan. Dia pun mengaku tidak mengetahui berapa unit pesawat yang akan diproduksi. Sementara itu Menneg BUMN Sugiharto usai acara halal bihalal di Gedung Merdeka Bandung mengatakan semua tahapan produksi NC 212 tersebut akan dilakukan di Indonesia sehingga semua peralatan dari EADS akan dipindahkan ke PT DI. Untuk pemindahannya dibutuhkan dana sebesar Rp 150 miliar. "Untuk tahap pertama diproduksi 60 unit pesawat," katanya.
(ern/nrl)











































