Tiap Tahun, 9 Warga Jateng Meninggal Akibat AIDS
Jumat, 10 Nov 2006 19:32 WIB
Semarang - Sejak 1993 hingga November 2006, 970 orang dinyatakan mengidap virus HIV/ AIDS di Jawa Tengah (Jateng) dan 110 orang di antaranya meninggal dunia. Kesimpulannya, tiap tahun, 9 warga Jateng meninggal karena penyakit tersebut."Setelah diobservasi, dari 970 penderita HIV, 193 di antaranya terjangkit dalam taraf syndrome AIDS. Mereka tinggal menunggu kematian karena sudah tidak dapat diobati," kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Budihardja di kantornya, Jalan Pierre Tendean, Semarang, Jumat (10/11/2006). Tahun 1993 merupakan awal masuknya HIV/AIDS di Jateng. Berdasarkan pantauan Dinas Kesehatan, dari tahun ke tahun, penyakit itu terus tumbuh secara merata di 35 daerah di Jateng.Budiharja prihatin karena dari 970 penderita HIV/AIDS itu, 6 orang di antaranya adalah balita. Bahkan dua anak di antaranya lahir dengan membawa virus HIV. Hingga kini, satu dari balita itu telah meninggal dunia.Dijelaskan lebih lanjut, kemungkinan besar jumlah penderita HIV/AIDS lebih besar dari yang diketahui. Pasalnya, ada warga yang belum atau tidak melaporkan kasusnya dengan berbagai pertimbangan. Dari laporan yang masuk, kasus terbanyak terdapat di Kota Semarang, disusul Kabupaten Banyumas, Kabupaten Semarang, dan Solo. Di 31 daerah lainnya, ada beberapa kasus namun tidak menonjol."Dari kasus-kasus itu diketahui penyebab munculnya HIV/AIDS adalah akibat hubungan seksual (heteroseks) dengan pengidap HIV/AIDS sebanyak 62,2 persen, disusul perilaku homoseksual 5 persen, pemakaian jarum suntik narkoba 27,78 persen, akibat transfusi darah yang tercemar HIV 1 persen, dan tertular sejak dalam kandungan sebanyak 3 persen," paparnya.Untuk mengetahui secara cepat berapa faktual penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah, Dinas Kesehatan Jawa Tengah menunjuk beberapa rumah sakit rujukan untuk memberikan pelayanan pemeriksaan secara gratis."Semakin cepat mereka melapor, maka penanganan penderita HIV/AIDS juga makin baik. Kami juga sedang mengembangkan Poliklinik Kesehatan Desa (Polindes) dengan tujuan penderita HIV/AIDS dapat ditangani secara cepat," jelasnya.
(try/ahm)











































