Sambangi Hotel Berlin, Mahasiswa vs Anggota DPR RI Silat Lidah

Sambangi Hotel Berlin, Mahasiswa vs Anggota DPR RI Silat Lidah

- detikNews
Jumat, 10 Nov 2006 14:48 WIB
Jakarta - Gerah dengan studi banding anggota DPR di luar negeri, mahasiswa Indonesia di Berlin, Jerman, menyambangi hotel tempat wakil rakyat terhormat itu menginap. Mereka pun bersilat lidah."Perbincangan dimulai dengan pertanyaan seputar maksud dan tujuan ke Berlin," tutur aktivis Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Berlin, Azman Muchtar, melalui surat elektronik kepada detikcom, Jumat (10/11/2006).Lulusan Master Globalisasi dan Kebijakan Industrial, Universitas Kassel & Fachohschule fur Wirtschaft (FHW) Berlin ini mengungkapkan peristiwa yang terjadi pada 9 November 2006.Mahasiswa yang mewakili PPI Berlin mencoba mencegat mereka di tempat menginap di Hotel Hilton Berlin. Mahasiswa yang datang sejak pukul 20.30 malam akhirnya berhasil mencegat anggota DPR pukul 21.45 saat mereka memasuki hotel.Ada 7 anggota Komisi V DPR dan beberapa personel dari Departemen Perhubungan yang mengikuti studi banding di Berlin dalam rangka pembuatan UU Perhubungan (Perkeretaapian).Namun dalam pertemuan dengan mahasiswa, hanya 3 wakil rakyat yang ikut, yakni Akhmad Muqowwam dari Fraksi PPP selaku ketua Komisi V DPR, Darul Siska dari Fraksi Partai Golkar, dan seorang wakil dari Fraksi PDIP.Dalam pemaparannya, tutur Azman, Akhmad Muqowwam menjelaskan tujuan mereka dalam rangka UU Perkeretaapian. Tujuan dari RUU tersebut adalah membuat bisnis kereta api di Indonesia menjadi lebih terbuka bagi publik. Salah satu sasaran besar dari RUU tersebut adalah menghapus monopoli perkeretaapian yang dianggap merintangi peminat asing untuk ikut bermain di dalam bisnis ini.Menurut Muqowwam, seperti ditulis Azman, bila kereta api dibuka untuk pihak asing, maka beberapa investor segera akan menanamkan investasinya ke dalam bisnis ini."Semangat anggota DPR ini mengingatkan kita pada kejadian bagaimana Laksamana Sukardi (Menneg BUMN era Gus Dur dan Megawati) menjual aset bangsa kepada pihak asing," kritik Azman.Dalam pembicaraan soal pembangunan sarana dan prasarana perkeretaapian, lanjut Azman, Muqowwam menuding reformasi telah menyebabkan pembangunan terhambat, dan demokrasi di Indonesia telah menghancurkan pembangunan."Pendapat tersebut ditentang keras oleh mahasiswa dan terjadilah perdebatan, yang pada akhirnya mengakhiri sikap arogan dari Muqowwam yang sejak awal sudah memperlihatkan superioritas dan menganggap dirinya lebih pintar," tulis Azman."Muqowwam tidak mampu menjawab ketika mahasiswa memaparkan bahwa banyak negara yang menganut demokrasi seperti Amerika, Inggris, dan Jerman mampu mengelola negara sehingga rakyatnya menjadi makmur dan teratur," beber Azman.PPI Berlin, lanjut Azman, mengingatkan agar kekalahan Indonesia dalam ekonomi global lantaran kesalahan rezim terdahulu dalam mengelola negara tidak terulang."Hingga saat ini utang luar negeri Indonesia telah menjadi beban rakyat. Hasil pembangunan semu zaman Orde Baru sebagai hasil utang luar negeri tidaklah dapat dinilai sebagai keberhasilan mutlak. Penjualan aset secara besar-besaran di zaman Megawati adalah hal yang tidak boleh terulang," tulis Azman."Seharusnya anggota DPR memahami, hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak seharusnya dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat, tidak secara bulat-bulat dijual atau dibuka untuk kepentingan asing demi kepetingan segolongan pihak demi kekayaan saat mereka menduduki posisi vital di Indonesia," tandas Azman. (sss/nrl)


Berita Terkait